Waingapu.Com-Minggu (10/8/2025) siang tengah hari itu, mentari lumayan terik, kendati demikian angin masih tetap berhembus menelisik diantara rerumputan tengah lapangan Pacuan Kuda Rihi Eti Prailiu yang mulai beralih warna dari hijau menuju kecoklatan. Sang bayu juga tetap menyapa para pengurus Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Sumba Timur dan sesepuh pecinta pacuan kuda tradisional Sumba di Tribun Lapangan Pacuan Kuda yang legendaris di Kecamatan Kambera itu.
Waktu beranjak menuju tibanya para pengurus pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi) Pacu. Setelah turun dari mobil dan menaiki tangga tribun, para petinggi PP Pordasi Pacu itu dikalungi kain tenun ikat khas oleh Ketua Pordasi dan sesepuh pecinta kuda pacu khas Sumba. Yaa, Ketua Pordasi Sumba Timur Felix Wongkar berdiri bersama sesepuh kuda pacu Umbu Kudu Praibakul. menyambut tiga petinggi PP Pordasi: H. Gusrial (Wakil Ketua I PP Pordasi Pacu), Aguspen Adnan (Direktur Pacu Tradisional PP Pordasi), dan Firdaus Tarigan (Ketua Bidang Hukum PP Pordasi).
Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi. PP Pordasi tengah menjajaki kemungkinan Sumba Timur menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pacuan Kuda Tradisional 2025.
“Kalau mengacu pada jadwal kami, Kejurnas digelar mulai September hingga Desember. Untuk Sumba Timur, Oktober masih mungkin, asal lintasan sesuai regulasi dan jumlah kuda start minimal 10 ekor,” ujar H. Gusrial.
Ia menjelaskan, Sumba Barat sebenarnya baru saja menggelar Bupati Cup di arena pacu yang memadai. Namun, faktor musim hujan dan agenda budaya setempat membuat wilayah itu sulit dipilih pada akhir tahun. “Di sini ada Umbu Kudu, sesepuh pecinta kuda pacu, yang mungkin bisa menyiapkan lintasan. Kalau tidak, ya kita tunggu kemungkinan di tahun yang akan datang,” imbuhnya.
Aguspen Adnan menegaskan, keputusan menjadikan Pulau Sumba sebagai titik awal Kejurnas bukan tanpa alasan. “Merujuk amanat Rakernas Februari 2025 di Bogor, Kejurnas Pacuan Kuda Tradisional pertama kali memang dimulai dari Sumba,” ujarnya.
Bagi Aguspen, selain aspek teknis, keamanan adalah prioritas. “Unsur K3 mutlak diterapkan demi keselamatan peserta dan penonton. Kami juga melihat respons teman-teman di daerah. Bersyukur hari ini Pordasi Sumba Timur sangat welcome,” tuturnya.
Tantangan Panjang Lintasan
Meski menyatakan kesiapannya, Ketua Pordasi Sumba Timur, Felix Wongkar, menyebut ada kendala yang harus diselesaikan. “Panjang lintasan kami di Prailiu ini hanya 800 meter. Standar Kejurnas minimal 1.200 meter. Itu perlu persiapan tambahan,” katanya.
Sekretaris Pordasi Sumba Timur, Stefanus Pekuwali, menambahkan, koordinasi lintas pihak menjadi hal mutlak. “Kami perlu berbicara dengan Umbu Kudu yang punya lahan luas, juga Bupati dan Wakil Bupati,” jelasnya.
Umbu Kudu sendiri membuka peluang penggunaan lahannya untuk lintasan standar Kejurnas. “Kalau menyangkut lapangan, ada. Tapi harus runding dulu dengan keluarga, juga pemerintah daerah,” ucapnya singkat.
Pacuan Kuda dan Identitas Sumba
Bagi masyarakat Sumba, pacuan kuda bukan sekadar olahraga, melainkan bagian dari identitas budaya. Arena pacuan selalu menjadi titik temu ribuan warga dari berbagai kampung, membawa kuda-kuda terbaik untuk berlomba di atas lintasan tanah yang memanjang di tengah padang.
Rencana Kejurnas di Sumba Timur akan menjadi sejarah baru—mengangkat olahraga tradisional ini ke panggung nasional, sekaligus mempromosikan pesona Sumba di mata Indonesia. Namun, sebelum itu, lintasan 1.200 meter harus benar-benar siap, lengkap dengan fasilitas keselamatan, tribun penonton, dan area kuda start.
Firdaus Tarigan menutup kunjungan dengan optimisme. “Kalau semua pihak kompak, saya yakin Sumba Timur bisa menjadi tuan rumah yang membanggakan. Tinggal kita lihat, apakah Oktober ini waktunya atau masih nanti di masa datang. Intinya ini bisa jadi peluang untuk Sumba Timur makin dikenal luas dunia luar, wisatawan dalam dan luar negeri bisa makin tertarik datang berkunjung dan semarakkan geliat ekonomi,” katanya.(ion)



