Waingapu.Com – Riuh tepuk tangan mengiringi kemenangan kuda pacu Oka Sawu di kelas A pada ajang Humba Cup II, Sabtu (30/8/2025). Tidak hanya itu, Jai dan goyang Samato juga mengantar Khristoforus, asal Bajawa, Flores, menerima piala dan uang bonus juara pertama.
“Kami persiapkan kuda hanya seminggu. Sudah sering ikut dan masuk final di sini, tapi baru kali ini jadi juara pertama. Malam nanti kami rayakan syukuran,” ungkapnya bahagia.
Oka Sawu bukan satu-satunya bintang. Dari total 726 ekor kuda yang bertanding di 15 kelas, masing-masing membawa cerita perjuangan. Total hadiah Rp28 juta untuk tiap kelas memicu persaingan sengit, sekaligus menambah kemeriahan perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia.
Acara penutupan di Lapangan Rihi Eti, Prailiu, dihadiri langsung oleh Komandan Kodim 1601/Sumba Timur, Letkol Inf Dobby Noviyanto. Dalam sambutannya ia menekankan pentingnya pacuan kuda sebagai warisan leluhur.
“Ini bukan sekadar lomba, ini wajah budaya Sumba yang harus kita rawat,” tegasnya.
Sejak dibuka oleh Bupati Umbu Lili Pekuwali pada 20 Agustus lalu, ajang Palapang Njara ini menjadi magnet bagi ribuan penonton. Mereka datang bukan hanya untuk menyaksikan lomba, tapi juga merasakan pesta budaya dan silaturahmi yang menyatu di arena.
Ketua Pordasi Sumba Timur, Felix Wongkar, menegaskan even ini membuktikan bahwa Sumba Timur layak menjadi pusat pacuan kuda tradisional di NTT. “Peserta tahun ini luar biasa, bahkan banyak yang datang dari luar kabupaten. Ini modal besar bagi pariwisata juga perkembangan kuda pacu kita,” ujarnya.
Hiburan rakyat turut menutup rangkaian acara. Suasana semakin hangat ketika para juara merayakan kemenangan bersama keluarga dan pendukung. Dari Rihi Eti, pesan yang tersisa jelas: pacuan kuda bukan hanya kompetisi, tapi juga pesta persaudaraan.(ion/ped)







