Waingapu.Com-Empat pelajar dari sekolah di luar Kota Waingapu mencatatkan prestasi dalam lomba feature jurnalistik pada ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kabupaten Sumba Timur. Mereka menjadi pembeda di cabang tersebut karena menjadi peserta di antara ribuan pelajar yang tersebar lebih dari 40 SMA dan SMK itu.
Atas semangat dan niat mulia itu, mereka mendapatkan penghargaan pada Upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional di halaman Kantor Bupati yang dipimpin laangsung oleh Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, Sabtu (2/5/2026) pagi lalu.
Keempat pelajar itu masing-masing Anjas Ndamu Namu dari SMA Negeri 1 Paberiwai, Tresya Nadin Riberu dari SMA Negeri 1 Pahunga Lodu, Anthonio Vhezto Mbau dari SMA Negeri 1 Haharu, dan Marselyna Riwu dari SMA Negeri 1 Rindi Umalulu.
Dalam kompetisi tersebut, para peserta diminta menulis feature jurnalistik dengan tema seni dan budaya Sumba Timur. Tema ini mengikuti arah besar FLS3N tahun ini, yakni penguatan karakter melalui kreativitas dan apresiasi seni budaya.
Tulisan yang dihasilkan para peserta mengangkat kehidupan masyarakat, tradisi lokal, dan nilai-nilai budaya yang mereka temui sehari-hari. Mereka menulis dari pengalaman langsung di lingkungan masing-masing.
Penilaian dilakukan oleh tiga jurnalis yang tergabung dalam Komunitas Solidaritas Wartawan Sumba (Swara), yakni Dionisius Umbu Ana Lodu (Dion) Junus Imanuel Hauteas (Jumal) dan Laus Markus Goti (Oris).
Juri Dion menegaskan bahwa partisipasi keempat pelajar tersebut patut diapresiasi. Ia menyebut keberanian mereka menjadi poin utama dalam lomba ini
“Ini bukan hanya motivasi untuk mereka, tetapi juga untuk anak-anak Sumba Timur lainnya,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun kebiasaan menulis sejak usia sekolah. Menurutnya, pelajar tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi namun bisa pula menyajikan informasi yang benar di tengah maraknya informasi hoax dan bias di era digital ini.
Juri Jumal menilai menulis feature bukan hal mudah, bahkan bagi jurnalis sekalipun. Ia menjelaskan bahwa proses penulisan membutuhkan tahapan yang panjang.
“Menulis feature bukan perkara mudah, bahkan tidak semua jurnalis mampu menulis feature dengan baik,” katanya.
Ia menambahkan bahwa penulis harus mampu mengamati dan merasakan fakta secara detail. Kepekaan menjadi hal utama dalam menghasilkan tulisan yang kuat.
Sementara itu, Laus Markus Goti menekankan pentingnya wawancara dalam penulisan feature. Ia menyebut kemampuan memilih narasumber menjadi faktor penting.
“Dalam menulis feature sangat penting proses wawancara, dimana penulis dituntut punya kepekaan dan kemampuan memilih narasumber yang tepat dan meramu pertanyaan yang tajam,” ujarnya.
“Berbeda dengan karya jurnalistik lainnya, menulis feature membutuhkan pendalaman dan internalisasi yang lebih dalam. Selain itu, kode etik jurnalistik juga harus benar-benar ditaati,” tandasnya.
Melihat minimnya peserta, sejumlah sekolah mulai merespons dengan rencana penguatan literasi. Kepala SMA Negeri 1 Rindi Umalulu, Benyamin Nimrod Jutalo, menyampaikan rencana pelatihan jurnalistik bagi siswa.
“Berkaca dari lomba kali ini, kami berencana untuk mengadakan pelatihan jurnalistik bagi anak-anak kami. Tentunya kami tetap berharap rekan-rekan dari SWARA bisa membantu kami jika nantinya hal itu kami wujudkan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut diamini oleh Kepala SMA Negeri 1 Haharu, Lodu Namurondja, yang juga melihat pentingnya pengembangan kemampuan menulis bagi siswa.
Di tempat yang sama, Afliana Njalapati dan Abner Reinhard Pada mengusulkan adanya pelatihan lanjutan bagi para pemenang. Mereka berharap pembinaan dilakukan secara khusus agar kemampuan siswa terus berkembang.
Menanggapi hal tersebut, para juri membuka ruang bagi siswa untuk terus berkarya. Mereka juga menyatakan kesiapan untuk mempublikasikan tulisan para pelajar di media.
“Kami membuka ruang sebesar-besarnya bagi karya tulis maupun jurnalistik para siswa untuk dipublikasikan di media,” ujar Dion.
Sebagai tindak lanjut, karya keempat pelajar akan dipublikasikan secara online setelah melalui proses penyuntingan. Langkah ini diharapkan menjadi motivasi bagi pelajar lain.
Ketua Komunitas Menyapa Sumba, Umbu Makaborang, juga turut memberikan apresiasi terhadap para peserta. Ia menilai kegiatan ini penting untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah.
“Ajang ini bagus, apalagi mengangkat seni dan budaya daerah. Anak-anak bisa mencintai budaya dan seni daerah sendiri dan mampu berbagi dengan orang lain. Sumba Timur sangat perlu anak-anak yang luar biasa ini,” pungkasnya.(ion)







