Waingapu.Com-Peresmian Gereja Kristen Sumba (GKS) Jemaat Kalu di Kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, Jumat (1/5/2026), berlangsung bukan sekadar seremoni gerejawi. Momentum ini menjelma menjadi perayaan iman yang menyatu erat dengan denyut budaya lokal.
Ribuan jemaat memadati halaman gereja sejak pagi hari. Mereka datang dari berbagai penjuru, tidak hanya dari Jemaat Kalu, tetapi juga dari sejumlah jemaat GKS lainnya di wilayah Sumba Timur. Suasana khidmat berpadu dengan semarak budaya yang terasa kuat sejak awal acara.
Ketua Umum Sinode GKS, Pendeta Marlin Lomi, sesaat sebelum pembukaan tirai plang gereja menyampaikan bahwa GKS Jemaat Kalu resmi menjadi jemaat mandiri ke-294 dalam lingkup sinode.
“Ini bukan sekadar penambahan angka dalam statistik gereja, tetapi pertumbuhan iman yang nyata di tengah masyarakat,” tandas Marlin Lomi.
Keunikan peresmian ini terlihat dari kuatnya sentuhan inkulturasi budaya Sumba Timur. Tidaj hanya sajian sirih pinang, juga tari-tarian tradisional ditampilkan sebagai bagian dari ekspresi syukur, sementara lagu-lagu rohani dilantunkan dalam bahasa Kambera, menghadirkan nuansa spiritual yang khas dan membumi.
Tidak hanya itu, ritual adat juga menjadi bagian penting dalam perayaan tersebut. Seekor kerbau dikurbankan sebagai simbol syukur dan pengorbanan, sesuai tradisi lokal yang masih dijaga hingga kini.
Pendeta Theresia Ella Rambu Hada, yang ditahbiskan sebagai pendeta pertama di jemaat tersebut, dalam khotbah sulungnya menekankan pentingnya persatuan dalam tubuh gereja.
“Tidak bisa dalam satu anggota tubuh yang sakit namun tidak dirasakan oleh anggota tubuh lainnya. Semua harus turut merasakan,” tegasnya di hadapan jemaat.
Ia mengutip ajaran Rasul Paulus kepada jemaat Korintus, mengingatkan bahwa setiap anggota memiliki peran penting, termasuk yang sering dianggap lemah.
“Dunia boleh menghargai yang terlihat dan kuat, tetapi Allah seringkali memakai yang sederhana dan tersembunyi,” lanjutnya.
Menurutnya, gereja harus menjadi ruang di mana setiap orang dihargai, termasuk mereka yang melayani tanpa sorotan.
Peresmian ini menjadi simbol bahwa gereja di Sumba Timur terus bertumbuh dengan tetap berakar pada budaya lokal. Inkulturasi bukan hanya menjadi ornamen, tetapi bagian dari identitas iman itu sendiri.(ion)







