Waingapu.Com– Ada suasana berbeda ketika Kapolres Sumba Timur, AKBP Gede Harimbawa, menginjakkan kaki di Pulau Salura pada Sabtu (30/8/2025) lalu. Bukan hanya sekadar agenda dinas kepolisian, tetapi perjumpaan dengan kearifan lokal yang berjalan turun temurun dan punya arti mendalam.
Kedatangannya disambut masyarakat dengan gelang daun lontar, simbol penghormatan bagi tamu yang baru pertama kali menapakkan kaki di pulau terluar berbatasan Australia itu. Rasa kekeluargaan begitu terasa sejak awal prosesi.
Tak berhenti di sana, pemuda dan pemudi Salura menghadirkan silat Pagar Nusa. Gerakan silat mengalir penuh semangat, seolah mengiringi perjalanan menuju sumur tua yang diyakini sakral oleh masyarakat setempat.
Di sumur tua, AKBP Gede Harimbawa mengikuti prosesi: membasuh muka dan melepaskan gelang lontar. Sebuah tindakan sederhana namun sarat makna, menandai penerimaan seorang tamu ke dalam keluarga besar Salura.
Tokoh masyarakat, Asyad Saleh, menjelaskan ritual itu adalah tradisi turun-temurun yang tak pernah pudar.
“Ini adalah warisan leluhur. Semua orang yang pertama kali datang wajib melakukannya, sebagai penghormatan pada adat dan sejarah kami,” ujarnya.
Kapolres pun mengaku terkesan. Ia menyebut kearifan lokal Salura sebagai kekuatan budaya bangsa. “Tradisi ini luar biasa. Budaya seperti inilah yang memperkaya dan memperkuat Indonesia,” katanya.
Kunjungan ini menegaskan bahwa Polri bukan hanya hadir menjaga keamanan, tetapi juga merawat budaya sebagai perekat bangsa di wilayah terluar Nusantara.(ion)







