Kupang, Waingapu.Com-Koperasi bukan hanya soal uang yang ditabung atau dipinjamkan. Ia adalah rumah bersama, tempat masyarakat membangun daya tahan ekonomi. Itulah wajah KSP Nasari di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang kini berusia 27 tahun.
Dalam momentum ulang tahunnya, KSP Nasari menggelar Bakatumu Basodara, sebuah acara yang menghadirkan anggota, pemerintah daerah, hingga stakeholder lain. Spiritnya sederhana: mempererat persaudaraan dan membuka ruang kolaborasi. Karena tanpa sinergi, koperasi hanya akan berjalan sendiri.
Ketua Nasional KSP Nasari, Frans Meroga, menuturkan, koperasi ini telah berkembang menjadi kekuatan ekonomi nasional dengan 63 ribu anggota dan aset Rp850 miliar. “Kami ingin koperasi hadir di tengah masyarakat, menjadi mitra sejati pembangunan daerah,” katanya.
Fokus pembangunan jejaring menjadi strategi ke depan. Bagi Nasari, membuka cabang di TTS, TTU, Flores, hingga Bima, NTB bukan sekadar perluasan usaha, melainkan langkah nyata menghadirkan layanan lebih dekat ke masyarakat.
Bayu Widiatmoko, Kepala Divisi Regional Bali Nusra, menegaskan target utama adalah peningkatan pelayanan dan perekrutan anggota baru. “Kami sudah hadir di Maumere dan Ruteng. Selanjutnya, kami ingin lebih merata, agar manfaat koperasi benar-benar dirasakan luas,” jelasnya.
Di balik itu, KSP Nasari menyadari betul peran koperasi dalam mendukung berbagai sektor bisnis. Dari pertanian, perkebunan, hingga peternakan, koperasi bisa menjadi tulang punggung yang menopang perekonomian rakyat NTT.
Dengan fondasi kebersamaan, Nasari telah membuktikan bahwa koperasi bukan sekadar instrumen ekonomi, tetapi jalan menuju keadilan sosial. Sebuah model yang layak jadi inspirasi di tengah ketimpangan yang masih membayangi daerah.







