Kakek 77 Tahun Hanyut oleh Banjir di Tabundung, Baru Kuda Tunggangnya Ditemukan

oleh
oleh

Waingapu.Com – Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi beberapa hari terakhir di Sumba Timur berakbiat sejummlha sungai meluap. Kondisi serupa terjadi di sungai yang membelah Desa Pinduharani dan Praingkareha, Kecamatan Tabundung, Kabupaten Sumba Timur, NTT. Padjaru Kondatana, seorang kakek berusia 77 tahun hingga kini masih dinyatakan hilang karena terseret banjir yang terjadi Rabu (12/4/2023) sekira pukul 02.00 dini hari lalu. 

Informasi yang diperoleh wartawan dari Oktavianus Takanjanji, Plt Kepala BPBD Sumba Timur, Jumat (14/4/2023) petang lalu menyatakan, pencaria telah dilakukan keluarga dan aparat desa, kecamatan dan Polsek setempat sejak Kamis (13/4/2023) kemarin. Bahkan pencarian telah pula dilakukan dengan melibatkan Tim SAR gabungan mulai Jumat (14/4/2023) hari ini namun hasilnya masih nihil. 

Baca Juga:  Turunkan Alat Berat, Kontraktor Mulai Perbaiki Jalan Laindeha

Lebih lanjut Oktavianus membenarkan, bahwa pencarian oleh keluarga hanya membuahkan hasil ditemukan kuda tunggangan korban yang telah mati plus ikat kepala dan kain korban. Dikatakannya, korban sebelumnya hendak pulang ke rumah paska melakukan pertemuan keluarga di rumah duka kerabatnya di desa Pinduharani.

“Pulang dari rapat keluarga duka di Pinduharani, korban yang hendak kembali ke rumahnya melintasi sungai yang membelah desa Praingkareha dan Pinduharani.  Namun saat itu terjaid banjir, korban dan kuda tunggangannya nekad menyeberang sungai. Sayang tidak berhasil nyebrang malah terseret arus deras banjir,” jelas Oktavianus.

Adapun korban sebelumnya pada Selasa (11/4/2023) sekira pukul 05.00 WITA berangkat dari kediamannya di Desa Praingkareha dengan menunggangi kudanya. Begitupun saat kembali dari rumah duka korban juga menunggang kudanya. 

Baca Juga:  Hujan Lima Jam, Jalur Lintas Utara Sumba Timur Terputus Oleh Banjir

“Setelah ditanya ke rumah duka ternyata korban disebutkan sudah pulang. Karena kondisi Sungai baru mulai surut karena banjir, keluarga kemudian berupaya mencari korban di Sungai namun tidak membuahkan hasil. Keluarga hanya menemukan kuda tunggangan korban yang telah mati juga karena menjadi korban terjangan derasnya banjir,” pungkas Oktavianus. (wyn)  

Komentar