Waingapu.Com – Sidang Sinode ke-44 Gereja Kristen Sumba (GKS) yang digelar di GKS Jemaat Nggongi, Klasis Mahu-Karera, Kabupaten Sumba Timur, tidak hanya menjadi forum tertinggi pengambilan keputusan gerejawi. Agenda empat tahunan ini juga tampil sebagai ruang strategis yang mempertemukan gereja dan pemerintah untuk merumuskan kerja sama dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan, sosial, hingga kemanusiaan di Pulau Sumba dan Nusa Tenggara Timur.
Momentum tersebut semakin kuat dengan rencana kehadiran Gubernur Nusa Tenggara Timur bersama para bupati dan wakil bupati se-Daratan Sumba, pimpinan DPRD, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Kehadiran para pemimpin daerah itu menjadi penanda bahwa relasi antara gereja dan pemerintah tidak lagi sebatas hubungan seremonial, tetapi berkembang menjadi kemitraan strategis dalam melayani masyarakat.
Sekretaris Umum Sinode GKS, Pendeta Yakub Malo Bili pada wartawan mengatakan, Sidang Sinode ke-44 memang dirancang sebagai momentum memperkuat jejaring pelayanan, termasuk membangun komunikasi yang semakin erat dengan pemerintah di berbagai tingkatan.
“Hadirnya mitra-mitra ini sangat berarti bagi GKS. Selain mempererat tali persaudaraan, kehadiran mereka juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap perjalanan pelayanan GKS ke depan,” ujar Pendeta Yakub Malo Bili di Waingapu.
Menurutnya, sinergi antara gereja dan pemerintah menjadi kebutuhan yang semakin penting di tengah kompleksitas persoalan masyarakat. Gereja memiliki peran moral, spiritual, dan sosial, sementara pemerintah memiliki kewenangan dalam penyelenggaraan pembangunan. Ketika keduanya berjalan bersama, pelayanan kepada masyarakat diyakini akan semakin efektif dan menyentuh kebutuhan riil warga.







