Setelah proses menenun selesai, tantangan berikutnya bukan lagi soal benang dan motif, melainkan pemasaran produk akhir, bagaimana hasil tenun itu menemukan pembelinya. Pemasaran menjadi ujian tersendiri bagi Rian, sebab tidak semua kain yang selesai ditenun langsung terjual. Namun ia tidak mudah putus asa. Di tengah tantangan tersebut, Rian mencoba memanfaatkan teknologi sederhana yang dekat dengan kesehariannya, yakni aplikasi WhatsApp. Melalui status dan pesan pribadi maupun grup, ia mulai menawarkan hasil tenunannya kepada kerabat, teman, hingga pelanggan di luar daerah. Dari layar kecil telepon genggamnya, benang-benang tradisi perlahan menemukan jalannya menuju pasar yang lebih luas.
Di akhir ceritanya Rian juga memberikan pesan kepada anak muda agar tidak melupakan akar budaya mereka sendiri. “Selain menjaga warisan, tenun memberikan peluang usaha yang sangat menjanjikan,” kata Rian. Baginya tenun ikat bukan sekadar kain yang diperjualbelikan, melainkan identitas yang menyimpan cerita, nilai, dan warisan leluhur. Rian mengajak generasi muda untuk tetap mempertahankan tenun ikat sebagai warisan dari jati diri, sebab di setiap helai benang tersimpan nama kampung, sejarah keluarga, dan kebanggaan akan tanah kelahiran. Rian juga berharap ada generasi yang memanfaatkan tenun ikat dengan membuat berbagai inovasi dan kreativitas, contohnya membuat berbagai macam aksesoris, tas, baju dan sejenisnya untuk dipajang dan dijual di Rumah Tenun Atma La Kanatang. Menurut Rian, menjaga dan melestarikan tenun ikat sama artinya dengan menjaga siapa jati diri mereka sebenarnya.
Penulis: : Anthonio Vhezto Mbau, Murid Kelas XI SMA Negeri 1 Haharu (Juara III Lomba Jurnalistik Tingkat SMA/SMK se-Sumba Timur dalam kegiatan FLS3SN)







