Kiprah Pemuda di Era Digital dalam Untaian Tenun Ikat

oleh
Penulis dan penenun di Rumah Tenun Atma La Kanatang (Foto: Anthonio Vhezto Mbau)

Mentari pagi jatuh perlahan, menari di antara rerumputan sabana Sumba, bagai doa yang dilafalkan tanpa suara. Cahaya kuning menyusup senyap di sela dinding kayu usang, menyentuh benang-benang yang tergantung tenang, menunggu untuk diceritakan kembali.

Siang itu, Kamis, 23 April 2026, di Desa Hambapraing RT/04 RW/02, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur, salah satu desa para penenun, tempat warisan tetap berdenyut dalam damai yang sunyi di tengah kota angkuh yang menjelma riuh tak berkesudahan, bak laksana akar tua yang menghunjam dalam tanah, tetap kokoh meski angin modernitas berhembus kencang menggoyahkan.

Siprianus Henggu Remidau, kerap disapa Rian. Ia adalah seorang pemuda yang hidup di bawah cahaya layar digital yang tak pernah padam, di tengah arus informasi yang mengalir deras tanpa jeda. Rian lahir dari orang tua yang memiliki pekerjaan utama sebagai penenun. Hasil menenun telah membawa Rian dan kelima saudaranya mengenyam pendidikan tinggi. Tak heran ia dan saudara-saudaranya sangat telaten dalam menenun karena sudah dibekali orang tua sejak kecil.

Hari-hari Rian mengalir demikian. Hening, namun sarat akan makna yang tak kasat mata. Ia bersila berjam-jam, tenggelam dalam gerak yang berulang seperti denyut kehidupan yang tak pernah benar-benar sama. Jemarinya menyusur helai demi helai, kadang benang itu tunduk dalam patuh, kadang ia membangkang seakan menyimpan kehendak yang tak mudah dijinakkan.

Atma La Kanatang menjadi pondok komunitas penenun desa Hambapraing. Rumah Tenun yang didirikan sejak tahun 2008 oleh Rian bersama keluarga serta bantuan seorang pencinta budaya dari Jakarta bernama “Atma.” Rian bersama keluarga dan masyarakat setempat menjaga untaian jiwa leluhur, di antara bayang-bayang yang merayap sunyi di sudut rumah yang beralas papan tua dan beratap alang-alang sederhana yang menyimpan kisah tak terucap. Jari-jemari menari lirih, menyusuri helai demi helai, berusaha memahami setiap bisikan ritme kuno yang nyaris terkubur oleh lipatan zaman.