Kiprah Pemuda di Era Digital dalam Untaian Tenun Ikat

oleh
Penulis dan penenun di Rumah Tenun Atma La Kanatang (Foto: Anthonio Vhezto Mbau)

Bagi para penenun di desa tersebut, menenun bukanlah pekerjaan sampingan, namun pekerjaan utama yang sangat menjanjikan kesejahteraan pada anak cucu. Di sana, benang-benang tidak hanya dirangkai, tetapi diajak memaknai, mengingat, diajak pulang pada jejak yang pernah ditinggalkan leluhur. Rian adalah satu dari sedikit pemuda yang memilih terlibat dalam proses menenun. Ia tidak sekadar belajar menenun, tetapi juga memahami setiap tahap yang dilalui benang sebelum menjadi kain.

Perjalanan selembar kain dimulai dari kabokul. Kabokul adalah proses pemintalan benang hingga berbentuk bola benang, seolah menata awal dari sebuah cerita. Lalu berlanjut ke pamening, pamening adalah proses menyusun atau menata benang-beang di alat tenun (bingkai kayu, wanggi) proses ini seakan menguji kesabaran dan ketekunan, di tahap ini tiap utas benang ditata dengan kepenuh hati-hatian seolah menyiapkan panggung bagi lahirnya motif yang sakral, lalu dilanjutkan tahap ikat motif. Tangan-tangan terlatih menata pola dengan cermat, di sanalah motif bersemayam dalam diam menjelma rupa namun telah berdenyut hidup dan sarat akan makna. Ada motif kuda, motif rusa, motif mamuli. Salah satu motif yang memberikan identitas dan syarat akan makna bagi masyarakat kecamatan kanatang di antaranya adalah Patola Ratu. Rian menjelaskan bahwa “motif Patola Ratu artinya kain sutra dari India.” Kain yang mengarungi samudera, menjelajahi Nusantara. Konon katanya bahwa masyarakat percaya, motif ini bermula dari selembar kain istimewa yang dibawa oleh orang India dan dipersembahkan kepada Raja Sumba pada masa lampau.

Kain ini bukan sekadar hadiah, melainkan simbolkehormatan dan persahabatan antar daerah yang dipisahkan lautan.” Ia melebur dalam tanah, bernafas bersama adat dan berdenyut dalam jiwa setempat. Sejak saat itu, Patola ratu tak hanya menjadi corak melainkan mahkota yang menyandang martabat.

Lalu tahapan pencelupan. Rian selalu mempertahankan keaslian karya yang tak lekang oleh zaman. Daun wora atau daun nila nampak tumbuh subur di pekarangan rumah sebagai bahan utama pewarna alami yang berwarna biru. Warna yang tak pernah pudar walaupum musim berganti. Setelah tahapan pencelupan, helaian kain tersebut mulai ditenun. Menenun bukan sekadar kerja tangan, melainkan perjalanan sunyi yang berdenyut pelan di antara waktu. Jemari kembali bekerja, menyusun, merajut, dan menghidupkan kain yang bukan sekadar benda, melainkan kisah panjang tentang kesabaran, ketelitian, dan warisan yang terus dijaga. Lalu berlanjut proses kabakil.

Pada tahap ini, arah benang seolah dibalikkan, melawan arus yang telah dilalui. Jemari kembali menata dengan penuh kehati-hatian, menenun dalam arah yang berbeda, menghadirkan keseimbangan dari setiap jalinan yang telah terbentuk. Upaya untuk memastikan bahwa setiap helai berada pada tempatnya. Tahapan terakhir adalah pelintir, sentuhan penutup dalam perjalanan panjang sehelai kain tenun. Di ujung kain, jemari memutar benang dengan sabar, mengikatnya dalam lilitan kecil yang kokoh, seolah menahan agar kisah yang telah dirajut tak tercerai oleh waktu. Setiap pilihan adalah kunci yang menjaga, setiap putaran adalah janji yang menguatkan, bahwa apa yang telah ditenun dengan kesabaran tak akan mudah terurai.

Rian juga mengatakan, “Dalam satu kali produksi, ada perjalanan panjang yang ditapaki dengan sabar, proses yang bisa memakan waktu 3 sampai 4 bulan bahkan paling lama 6 sampai 10 bulan tergantung motif dan jenis ukuran yang diminta oleh konsumen.” Waktu tersebut seakan turut ditenun, menjadi bagian dari kain menjadi saksi dari kesabaran yang tak pernah singkat. Rian juga menambahkan “dari proses panjang inilah yang membuat selembar kain dan sarung memiliki kualitas dan nilai jual yang lumayan tinggi, sarung berkisaran dari harga Rp 1.500.000 – 2.000.000 sedangkan kain kisaran dari RP. 3.000.000 – 5.000.000.