Jakarta, Waingapu.Com-Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perkumpulan Alumni Margasiswa Republik Indonesia (PATRIA) PMKRI mengambil langkah strategis untuk meredam potensi polarisasi di tengah masyarakat dengan mengundang Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, dalam sebuah dialog kebangsaan.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 15 April 2026, di Gedung Joeang 45, Menteng, Jakarta Pusat. Dialog ini mengusung tema “Merawat Tenun Kebangsaan”, sebagai respons atas viralnya potongan video pidato Jusuf Kalla di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada 5 Maret 2026.
Wakil Ketua Umum DPP PATRIA PMKRI, Maksimus Ramses Lalongkoe, menegaskan bahwa undangan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral organisasi dalam menjaga harmoni sosial dan meluruskan persepsi publik.
“Sebetulnya ini langkah strategis Alumni PMKRI yang tergabung dalam organisasi PATRIA dalam meluruskan dan menyelaraskan persepsi terkait penggunaan terminologi sakral agama dalam narasi kebangsaan di ruang publik,” ujar Ramses dalam siaran persnya, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, dialog ini menjadi ruang klarifikasi sekaligus refleksi kebangsaan agar masyarakat tidak terjebak dalam kesalahpahaman akibat informasi yang terpotong dan tersebar luas di media sosial.
Ramses menambahkan bahwa minimnya literasi masyarakat menjadi salah satu faktor yang mempercepat munculnya polarisasi. Karena itu, kehadiran Jusuf Kalla dinilai penting untuk memberikan pemahaman yang utuh kepada publik.
“Dialog langsung dengan Pak Jusuf Kalla ini sangat urgen agar mencegah polarisasi di tengah masih minimnya literasi warga bangsa dewasa ini,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa pernyataan Jusuf Kalla saat itu tidak dimaksudkan sebagai penafsiran ajaran agama, melainkan sebagai bagian dari analisis terhadap situasi psikologis pelaku konflik di Poso dan Ambon pada masa lalu.
Langkah ini, lanjut Ramses, sekaligus bertujuan meredam emosi pihak-pihak yang tersulut akibat potongan video yang beredar luas di ruang digital.
PATRIA PMKRI meyakini bahwa pengalaman Jusuf Kalla sebagai tokoh perdamaian nasional akan memberikan inspirasi bagi generasi muda dalam menyelesaikan perbedaan secara dialogis dan bermartabat.
Dialog kebangsaan ini diharapkan menjadi momentum memperkuat persaudaraan nasional serta meneguhkan kembali komitmen terhadap nilai-nilai kebhinekaan.
Dengan semangat merawat “tenun kebangsaan”, PATRIA PMKRI menegaskan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk memperkokoh persatuan Indonesia.(ion)







