Waingapu.Com-Pagi hari di Waingapu kini bukan lagi sekadar waktu memulai aktivitas, tetapi juga momen berburu BBM bersubsidi. Banyak warga memilih datang lebih awal ke SPBU untuk mengamankan posisi antre, berharap tidak pulang dengan tangki kosong.
Kendaraan roda dua berjejer rapi dalam antrean panjang, disusul mobil pribadi dan kendaraan angkutan barang. Situasi serupa terlihat hampir di seluruh SPBU di Kabupaten Sumba Timur.
“Kalau datang terlambat, ya siap-siap tidak dapat Pertalite. Jadi kami harus bangun lebih pagi dari biasanya,” ujar salah satu warga.
Bagi sebagian warga, ini sudah menjadi semacam rutinitas baru yang terpaksa dijalani. Mengantre BBM kini masuk dalam daftar kegiatan penting sehari-hari.
Antrean panjang yang terus berulang memperlihatkan betapa tingginya ketergantungan masyarakat pada BBM bersubsidi. Harga BBM non-subsidi dianggap terlalu berat bagi ekonomi rumah tangga.
Di tengah situasi ini, muncul kekhawatiran bahwa kondisi akan berdampak jangka panjang bagi produktivitas masyarakat. Banyak waktu terbuang di area SPBU yang seharusnya dapat digunakan untuk bekerja. Apalagi ditenggarai kini makin banyak masyarakat yang beralih profesi sebagai pengepul dan penimbun BBM bersubsisdi untuk nantinya dijual kembali secara eceran yang menguntungkan.
Selama solusi permanen belum hadir, antrean panjang BBM tampaknya masih akan terus menjadi bagian dari denyut kehidupan di Waingapu. Sebuah ironi di tengah harapan besar pada kemajuan daerah.(ion)







