Server Pusat Sempat Error, Gladi Bersih TKA SMPN Satap Langira Hari Kedua Berjalan Tanpa Kendala

oleh
Proses TKA dan dinamikanya di SATAP Langira, Desa Katiku Wai, Kecamatan Matawai La Pawu, Sumba Timur, NTT(Foto Kolase: Waingapu.Com)

Waingapu.Com-Gladi bersih Tes Kemampuan Akademik (TKA) di SMPN Satap Langira, Desa Katiku Wai, Kecamatan Matawai La Pawu, Kabupaten Sumba Timur, berlangsung selama dua hari dalam pelaksanaan Gelombang 1.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari persiapan siswa menghadapi pelaksanaan TKA secara nasional yang dilakukan berbasis daring.

Pada hari pertama gladi bersih, sesi pertama berjalan lancar dan seluruh siswa dapat mengikuti kegiatan dengan baik.

Namun pada sesi kedua terjadi gangguan pada server pusat, sehingga pelaksanaan ujian tidak dapat dilanjutkan.

Akibat kendala tersebut, sesi kedua kemudian dijadwalkan ulang dan akan dilaksanakan kembali pada Gelombang 2 hari pertama sesi kedua.

Meski sempat terjadi gangguan teknis, sesi ketiga pada hari pertama tetap berjalan normal hingga selesai.

Sementara itu, pada hari kedua pelaksanaan gladi bersih, seluruh sesi dari sesi pertama hingga sesi ketiga berlangsung tanpa kendala.

Guru sekaligus operator sekolah, Samuel Pipi Ratu Ndima, mengatakan para guru di sekolah tersebut bekerja sama memastikan kegiatan tetap berjalan baik.

“Puji Tuhan pada hari kedua tidak ada kendala dari sesi pertama sampai sesi ketiga. Semua siswa bisa mengikuti dengan baik,” ujar Samuel.

Ia menambahkan bahwa dukungan fasilitas internet desa menjadi faktor penting dalam kelancaran kegiatan tersebut.

“Dukungan pemerintah desa melalui fasilitas internet sangat membantu kami melaksanakan kegiatan nasional berbasis online dari desa,” katanya.

Terpisah, Kepala Desa Katiku Wai, Thomas Nuku Panda Awang, menyampaikan bahwa penyediaan fasilitas internet desa merupakan semangat bertahun-tahun yang merupakan kendala, pelaksanaan pemerintahan desa yang harus membutuhkan internet maka kami harus ke Waingapu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Semangat inilah yang membuat kami menghadirkan starlink untuk menunjang kerja-kerja kami di desa termasuk untuk mendukung berbagai aktivitas masyarakat, termasuk di bidang pendidikan.

“Ini merupakan tanggung jawab kami sebagai pemerintah desa. Fasilitas internet ini kami sediakan untuk mendukung berbagai aktivitas di desa, termasuk kegiatan pendidikan anak-anak kita. Kalau fasilitas internet ini tidak ada di desa, maka anak-anak harus pergi ke kecamatan dengan kondisi jalan yang sangat rusak dan berlumpur,” urai Thomas.

Ia juga menambahkan bahwa kondisi infrastruktur menuju kecamatan memang sangat memprihatinkan.

“Boleh dikatakan sekitar 99 persen jalan menuju kecamatan rusak berat. Jarak dari desa ke kecamatan kurang lebih 36 kilometer, sehingga tentu sangat menyulitkan jika anak-anak harus ke sana hanya untuk mengikuti kegiatan berbasis online,” imbuhnya.(wyn)