Waingapu.Com – Sidang Sinode ke-44 Gereja Kristen Sumba (GKS) tidak hanya menjadi ruang pengambilan keputusan internal gereja. Forum yang berlangsung di GKS Nggongi, Klasis Mahu Karera, Kabupaten Sumba Timur, NTT justru mengangkat berbagai persoalan strategis yang tengah dihadapi masyarakat Sumba, mulai dari kerusakan lingkungan, keadilan sosial hingga pelestarian budaya lokal.
Persidangan gerejawi yang berlangsung pada 2–10 Juli 2026 itu mengusung tema besar “Merawat Kehidupan dalam Kasih Kristus” dengan subtema “Merawat Bumi Sebagai Rumah Bersama, Memperjuangkan Keadilan dan Kebenaran serta Meneguhkan Nilai-nilai Budaya dalam Terang Injil.”
Ketua Sinode Gereja Kristen Sumba, Pendeta Marlin Lomi, mengatakan tema tersebut dipilih bukan sekadar menjadi slogan dalam persidangan gereja, tetapi lahir dari pergumulan nyata masyarakat Sumba yang sedang menghadapi berbagai tantangan sosial dan ekologis.
“Tema ini mengingatkan kita bahwa seluruh kehidupan dan alam semesta adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada manusia untuk dipelihara dengan penuh kasih dan tanggung jawab,” ujar Pendeta Marlin Lomi.
Menurutnya, Sidang Sinode merupakan forum musyawarah tertinggi dalam tata kelola Gereja Kristen Sumba yang menjadi ruang evaluasi seluruh pelayanan gereja, mulai dari tingkat jemaat, klasis hingga sinode.
Melalui forum tersebut, para peserta akan mengevaluasi pelaksanaan tugas panggilan gereja, menetapkan arah pelayanan lima tahun ke depan, sekaligus merumuskan berbagai kebijakan strategis yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan umat dan masyarakat.
“Dalam sidang ini kita bersama-sama mengevaluasi seluruh pelayanan gereja dan mengambil berbagai keputusan penting demi perkembangan Gereja Kristen Sumba pada periode mendatang,” katanya.
Pendeta Marlin menilai, gereja tidak boleh hanya hadir di ruang ibadah. Gereja juga harus aktif menjawab persoalan kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, hingga tantangan pelestarian budaya lokal yang semakin tergerus perubahan zaman.







