Melki mengatakan, pembangunan Pulau Sumba tidak boleh hanya bergantung pada bantuan dari luar. Menurutnya, kemajuan daerah akan terwujud apabila seluruh komponen, mulai dari pemerintah, gereja, tokoh adat, dunia usaha hingga masyarakat, mampu bekerja sama memanfaatkan potensi yang dimiliki secara berkelanjutan.
“Sumba memiliki semua yang dibutuhkan untuk maju. Tinggal bagaimana kita membangun kolaborasi dan bekerja bersama agar seluruh potensi itu benar-benar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Sumba sendiri,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi tema Sidang Sinode ke-44 GKS yang menempatkan kepedulian terhadap lingkungan hidup, keadilan sosial, dan pelestarian budaya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan gereja. Menurut Melki, isu-isu tersebut sejalan dengan arah pembangunan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang menempatkan pembangunan manusia dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan sebagai prioritas utama.
Sidang Sinode ke-44 GKS diharapkan menghasilkan berbagai keputusan yang tidak hanya memperkuat organisasi gereja, tetapi juga melahirkan rekomendasi konkret terhadap berbagai isu pembangunan, pelestarian lingkungan hidup, perlindungan budaya lokal, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Pulau Sumba.
Bagi masyarakat Sumba, Sidang Sinode kali ini menjadi lebih dari sekadar agenda gerejawi. Forum tersebut menjadi ruang bertemunya iman, budaya, dan pembangunan dalam satu komitmen bersama untuk merawat kehidupan, menjaga bumi, dan memperjuangkan masa depan Pulau Sumba yang lebih berkeadilan.(ion)







