Waingapu. Com-Roda-roda truk pengangkut tebu memang terus berputar membawa hasil panen menuju pabrik. Namun siapa sangka, muatan yang kurang rapi bisa mengundang masalah. Di ruas jalan jalur Pantura dan juga arah timur ruas jalan nasional, Kabupaten Sumba Timur, NTT, ceceran tebu selain bisa membuat lalu lintas jauuh dari kenyamanan dan beresiko bagi pengguna jalan lainnya, juga tentu merusak estetika.
Tak ingin citra buruk melekat lebih lama, pihak perusahaan pemilik tebu yakni PT Muria Sumba Manis (MSM) akhirnya buka suara, Selasa (29/7/2025) sore lalu. Melalui pesan tertulis yang dikirimkan oleh Simon Silitonga, CSR dan Communication perusahaan yang bergerak dalam bidang investasi perkebunan tebu dan pabrik gula di bawah naungan Djarum Group itu, mengakui kejadian tersebut dan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang merasa terganggu.
“Kami tidak menutup mata. Begitu menerima laporan, tim kami langsung terjun ke lokasi, membersihkan sisa-sisa tebu agar jalan kembali aman dilalui,” tandas Simon.
Lebih lanjut, diuraikan Simon, bahwa mereka kini menerapkan aturan lebih ketat bagi pengemudi. Armadanya diwajibkan mengikat muatan lebih kuat, memasang jaring pengaman, serta melakukan pengecekan rutin selama perjalanan.
“Pengawasan internal kami perketat. Ini bukan sekadar soal angkutan tebu, tapi juga soal tanggung jawab menjaga keselamatan bersama di jalan raya,” tegasnya.
“Jangan tunggu jatuh korban baru sibuk,” keluh Maria, seorang warga di bilangan Kecamatan Pandawai yang mana senada dengan ragam kecaman dan keluhan warga lainnya yang membuncah di media sosial.
Perusahaan juga menyebut setiap masukan dari masyarakat menjadi catatan penting untuk evaluasi. “Kami terus berbenah. Masukan dari masyarakat menjadi penyemangat kami untuk lebih baik lagi,” tutup Simon.(ion)


