Waingapu.Com-Jalan Pantura hingga ke arah Timur Sumba Timur akhir-akhir ini tidak lagi menjadi sekadar jalur penghubung antar-kecamatan. Jalanan itu kini menjelma menjadi ‘panggung nyata’ besarnya perkebunan tebu dan usaha terkaitnya, seiring batang-batang tebu yang berserakan di aspal jalanan. Sehari-hari, warga menyaksikan iring-iringan truk pengangkut tebu milik PT Muria Sumba Manis (MSM) dan para vendornya melintas dengan muatan berlebih.
Batang-batang tebu yang tidak terikat dengan sempurna jatuh ke jalan tanpa ada usaha untuk dihentikan. Mirisnya, sopir-sopir truk tetap melaju tanpa menoleh ke belakang, seolah jalan raya adalah halaman pribadi mereka. Adakah ini simbol arogansi industri terhadap ruang hidup rakyat kecil?
“Ini bukan soal kotor atau bersih. Ini tentang nyawa, tentang keselamatan kami sebagai pengguna jalan,” ungkap seorang warga pelintas senada dengan ragam keluhan dan kecaman warganet lewat sejumlah akun media sosial.
Yaaa, Foto dan video ceceran tebu yang memenuhi jalan disebar, disertai tuntutan agar aparat penegak hukum tidak tinggal diam. Mereka menantang Polres Sumba Timur untuk membuktikan keberpihakan mereka kepada rakyat kecil, bukan tunduk pada kuasa besar industri.
Menanggapi desakan publik, Kapolres Sumba Timur, AKBP Gede Harimbawa melalui Kasat Lantas, Iptu Jefry Paulus Kotta, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memanggil perwakilan PT MSM untuk diberikan teguran. “Kami tidak main-main. Jika setelah ini masih ditemukan pelanggaran, kami akan menindak tegas. Tilang, bahkan kandangkan kendaraan mereka,” tegas Jefry pada awak media, Selasa (29/7/2025) pagi lalu(ion)







