Waingapu.Com – Aroma mie pedas mengepul dari dapur terbuka, bercampur riuh percakapan pengunjung yang tak henti berdatangan. Sejak resmi dibuka, Mie Gacoan Waingapu langsung diserbu warga dari berbagai penjuru Sumba Timur.
Antrean mengular bukan hanya pada hari pembukaan. Pemandangan itu terus berulang, bahkan hingga larut malam. Anak-anak, remaja, hingga orang tua rela menunggu giliran demi mencicipi mie pedas yang selama ini hanya mereka lihat di media sosial.
Lyshandra Adinda Priscyla Nahak, PIC Mie Gacoan Waingapu yang akrab disapa Dinda, mengaku antusiasme masyarakat di luar perkiraan awal.
“Selama ini sebelum dibuka, sudah banyak yang tanya, kapan buka? Kapan buka? Mereka sudah tidak sabar mau coba,” ujarnya.
Dinda bahkan sempat menyimpan kekhawatiran.
“Saya awalnya pikir, bisa tidak ya kita masuk ke Waingapu? Apalagi kita tahu orang timur kalau makan mie saja tidak cukup, harus nasi,” katanya jujur.
Namun keraguan itu perlahan terjawab. Meja-meja terisi penuh, pesanan terus berdatangan tanpa jeda.
“Dan ternyata banyak juga peminat di sini,” tambahnya.
Harga yang relatif terjangkau menjadi salah satu faktor pendorong.
“Dengan Rp12.500 itu sudah paket komplit, dapat pangsit dua. Itu menurut saya cukup terjangkau,” jelasnya.
Menariknya, pembeli bukan hanya warga Waingapu.
“Kemarin ada juga yang dari Sumba Barat, Sumba Barat Daya, dan Sumba Tengah datang khusus beli,” ungkap Dinda.
Fenomena ini menunjukkan satu hal: kehadiran Mie Gacoan bukan sekadar tren sesaat, melainkan magnet baru kuliner di Pulau Sumba.
Kini, Waingapu resmi masuk dalam peta demam mie pedas nasional.(ion)







