Waingapu.Com-Dalam forum Simposium Budaya Sumba, Kepala Desa Tebara, Marthen Ragowino Bira, mengungkapkan fakta mencengangkan soal biaya ritual adat di Pulau Sumba. “Untuk satu kematian saja, keluarga bisa menghabiskan Rp300 juta sampai Rp700 juta. Itu angka yang sangat tidak masuk akal,”paparnya di aula Hotel Sinar Tambolaka, Sumba Barat Daya (SBD) Rabu (24/9/2025).
Menurutnya, ritual yang seharusnya menjadi pengikat sosial kini berubah menjadi beban ekonomi. “Pesta budaya pun bisa menguras Rp200 juta hingga Rp500 juta. Belum lagi perkawinan adat yang menghabiskan lebih dari Rp700 juta,” ungkapnya dalam simposium yang diselenggarakan oleh Wahana Visi Indonesia, YPK Donders itu.
Marthen menilai, adat yang mulia kini mengalami distorsi makna. “Seharusnya adat menjaga, bukan memiskinkan. Namun yang terjadi sekarang, adat dijalankan dengan gengsi, bukan esensi,” katanya.
Ia menekankan, akar masalah bukan pada budaya itu sendiri, melainkan cara masyarakat menafsirkan dan melaksanakan. “Menurut penelitian dan wawancara dengan tokoh adat, sebenarnya hanya tujuh ekor hewan yang wajib dalam ritual pembelisan. Tapi sekarang jumlahnya tak terkendali,” jelasnya.
Kondisi ini membuat masyarakat terjerat hutang yang sulit dilunasi. “Bayangkan, setiap keluarga harus menjual tanah atau sawahnya hanya untuk memenuhi tuntutan adat. Ini bukan lagi tradisi, ini beban,” ungkap Marthen.
Data Desa Tebara mencatat, total hutang budaya mencapai Rp14,7 miliar. Sebanyak 65 persen sawah warga sudah tergadai. “Kalau ini dibiarkan, desa kita bisa kehilangan identitas sekaligus tanahnya,” kata Kades yang Desanya kian dikenal global setelah Kampung Adat Praiijing pesonanya tersebar.
Menurutnya, solusi harus segera diambil. “Kurangi jumlah hewan yang dikorbankan. Lakukan dengan sederhana tanpa kehilangan makna. Itu jalan tengah yang realistis,” sarannya.
Ia juga mencontohkan, dalam kedukaan, lauk yang disajikan bisa dikurangi takarannya sehingga tidak perlu menyembelih banyak hewan. “Budaya tetap berjalan, tapi tidak menjerat warga dengan hutang,” jelasnya.
Marthen menegaskan, bila tidak ada perubahan, generasi muda Sumba akan semakin terbebani. “Sudah 45 persen anak muda putus sekolah. Mau kita bawa ke mana masa depan mereka?” tanyanya.
Forum budaya itu pun terdiam sejenak. Pernyataan Marthen seperti menyayat, namun sekaligus membuka kesadaran baru bahwa budaya harus dijalankan dengan bijak, bukan dengan gengsi.(ion)







