Nelayan Hambala Sebut Lurah Dapatkan Kapal Bantuan KKP

oleh -3 views
Nelayan yang tidak dibantu

Waingapu.Com – Bantuan 60 unit kapaldari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dipasok untuk para nelayan di Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT ternyata menyisakan polemik. Pasalnya ada sejumlah nelayan yang mengaku berhak menerima bantuan kapal, namun di saat-saat terakhir jelang ceremonial penyerahan bantuan oleh Gubernur NTT dan Tim dari KKP, Kamis (06/12) lalu, mengaku dicoret namanya oleh oknum Lurah Hambala dan pengurus Koperasi Lata Luri yang menaungi mereka. Tak hanya itu, kepada wartawan, tiga orang nelayan yang ditemui, Kamis (13/12) sore lalu di seputaran pelabuhan rakyat Waingapu, mengaku nama mereka tak hanya dicoret namun kapal justru diserahkan atau diambil oleh Rusdi Tahir selaku lurah dan juga diserahkan pada oknum yang bukan asli berporfesi sebagai nelayan.

“Kami bertiga sebenarnya anggota koperasi Lata Luri, kami ini satu kelompokdari sepuluh kelompok nelayan anggota Koperasi. Tapi nama kami kemudian dicoret dan kapal yang untuk kami diambil oleh Lurah dan RT. Nama kami dicoret karena kami tidak setor uang dua juta setengah untuk koperasi,” jelas Anwar Hasan Bananga, yang kala itu didampingi oleh Ramli Hasan Bananga serta Syahril Abdul Karim.

Penyerahan uang untuk Koperasi, demikian lanjut Anwar, mereka hanya diberikan tenggang waktu dua jam, yakni mulai pukul 08:00 hingga pukul 10:00. Karena jangka waktu yang begitu singkat upaya mereka untuk mencari dan meminjam uang melewati jangka waktu tersebut, yang mana kemudian berimbas pada dicoretnya ketiga nama mereka.

Kapal bantuan KKP

“Kami sudah usaha cari dan pinjam uang, dan setelah uangnya kami dapat, kami bawa ke pengurus Koperasi namun mereka bilang telah lewat waktu. Karena uang yang juga dikumpulkan oleh penerima kapal lainnya sudah disetorkan ke Bank,” ungkap Anwar sembari menunjukan tiga buah kapal yang ditambatkan tidak jauh dari tempat mereka membersihkan pukat kala itu adalah milik anggota, ketua dan bendahara koperasi.

“Ini tiga buah bodi kapal punya ketua, bendahara dan anggota koperasi. Kalau kapal yang untuk kami diambil lurah dan satunya lagi dikasih ke pak RT,” imbuh Ramli.

Saat itu, terkait realita yang harus mereka hadapi, nampak jelas ketiga nelayan itu hanya bisa melepaskan pukat sederhana mereka tidak jauh dari deretan kapal bantuna KKP, yang sebelumnya mereka idamkan. “Yaa mau bagaimana lagi, kita sementara pukat dipinggir-pinggir saja dulu. Kalau nanti ada yang ajak melaut yaa kita ikut nunpang, kala ada yang mau kasih sewa perahu atau kapal yaa kita sewa. Nanti kalau ada hasil baru kita bayar sewa. Perahu ipar saya dulu masih ada tapi sudah pecah, jadi yaa sewa di orang sudah,” lirih Syahril lalu berlalu memikul pukatnya menuju laut. (ion)

Komentar