Jakarta, Waingapu.Com – Sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam cengkeraman musim kemarau, termasuk kawasan Bali dan Nusa Tenggara yang diprakirakan mengalami curah hujan rendah hingga pertengahan September 2026.
Kondisi tersebut membuat ancaman kekeringan kembali menjadi perhatian, terutama di Nusa Tenggara Timur yang memiliki sejumlah wilayah dengan keterbatasan sumber air selama musim kering.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 567 Zona Musim atau 81,1 persen wilayah Indonesia masih mengalami periode musim kemarau hingga awal September 2026.
Curah hujan rendah, yakni kurang dari 50 milimeter per dasarian, diprakirakan masih mendominasi sebagian besar wilayah Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga sebagian besar Papua.
“Memasuki September 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah diprakirakan masih berada pada kategori rendah hingga menengah, atau sekitar 0–150 mm per dasarian,” tulis BMKG.
Bagi wilayah NTT, kondisi tersebut menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengantisipasi tekanan terhadap ketersediaan air bersih.
Sektor pertanian dan peternakan menjadi dua bidang yang paling rentan terdampak apabila periode kering berlangsung lebih panjang, terutama di daerah yang masih mengandalkan curah hujan sebagai sumber utama pasokan air.







