Dalam khotbahnya, Pendeta Aprianus mengajak seluruh peserta Sidang Sinode untuk terlebih dahulu membereskan kehidupan keluarga sebelum berbicara tentang pembenahan organisasi gereja. Ia menilai keluarga merupakan ruang pertama tempat nilai-nilai kekristenan dipraktikkan.
“Berkomitmen merawat kehidupan berarti bereskan keluarga, bereskan gereja kita, bereskan kepemimpinan kita. Jika tidak berangkat dari hati yang bersih maka yang ada hanyalah kepentingan,” ujarnya di hadapan jemaat.
Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi para pendeta, penatua, diaken, maupun seluruh utusan jemaat yang mengikuti Sidang Sinode GKS ke-44. Kepemimpinan gereja, menurutnya, tidak cukup hanya dibangun melalui kecakapan administrasi dan kemampuan berbicara, tetapi harus bertumpu pada integritas rohani.
Pendeta Aprianus juga mengingatkan bahwa pelayanan yang dilakukan tanpa ketulusan hanya akan menjadi aktivitas yang melelahkan. Sebaliknya, ketika hati dipenuhi kebenaran Allah, pelayanan akan menghasilkan damai, sukacita, dan menjadi berkat bagi banyak orang. “Kerja lurus dan tulus. Kalau hati tidak bersih, kalau kebenaran tidak benar-benar hidup dalam hati kita, hanyalah kesia-siaan,” katanya.
Ia berharap seluruh peserta Sidang Sinode tidak hanya menghasilkan keputusan-keputusan strategis bagi perjalanan GKS ke depan, tetapi juga mengalami pembaruan pribadi. Menurutnya, gereja yang kuat lahir dari para pelayan yang terlebih dahulu dipulihkan oleh Tuhan.
Melalui pesan tersebut, ibadah pembukaan rangkaian Sidang Sinode GKS ke-44 menjadi pengingat bahwa transformasi gereja tidak pernah dimulai dari perubahan struktur organisasi, melainkan dari perubahan hati setiap pelayan. Ketika hati dijaga dalam kekudusan dan kebenaran, pelayanan diyakini akan menghadirkan damai bagi keluarga, jemaat, dan masyarakat luas.(ion)







