Jakarta, Waingapu.Com-Wilayah Sumba dan Flores di Provinsi Nusa Tenggara Timur kembali masuk daftar daerah rawan banjir pesisir (rob) nasional. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan periode 1–6 Januari 2026 sebagai masa krusial potensi terjadinya rob di kawasan tersebut.
Peringatan ini dikeluarkan BMKG seiring terjadinya fase Perigee pada 2 Januari 2026 dan Bulan Purnama sehari setelahnya, yang berpotensi meningkatkan pasang maksimum air laut di hampir seluruh wilayah pesisir Indonesia.
“Fenomena astronomi ini dapat memicu peningkatan ketinggian muka air laut dan berisiko menyebabkan banjir pesisir,” tulis BMKG dalam keterangan tertulisnya.
Di wilayah NTT, karakter geografis berupa pulau-pulau kecil dan garis pantai yang panjang membuat dampak rob bisa terasa lebih cepat dan luas. Sumba dan Flores termasuk wilayah dengan banyak pemukiman yang tumbuh dekat garis pantai.
BMKG mengingatkan, genangan rob bisa berdampak langsung pada aktivitas masyarakat, terutama di kawasan pelabuhan rakyat yang menjadi pusat distribusi kebutuhan pokok antarpulau.
“Dampak rob dapat mengganggu aktivitas bongkar muat, pemukiman pesisir, hingga tambak perikanan,” tulis BMKG.
Sejumlah daerah pesisir di Sumba Timur dan Flores Timur diketahui memiliki sistem drainase yang belum memadai untuk menghadapi pasang maksimum laut, sehingga genangan berpotensi bertahan lebih lama.
BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat, termasuk mengamankan barang berharga, memperkuat struktur rumah pesisir, dan menghindari aktivitas di garis pantai saat pasang tertinggi.
Pemerintah daerah juga diharapkan segera menyebarluaskan informasi peringatan dini hingga ke tingkat desa dan kelurahan pesisir.
Rob yang berulang setiap tahun ini kembali mengingatkan bahwa tantangan kebencanaan di NTT bukan hanya gempa dan kekeringan, tetapi juga ancaman senyap dari laut.(ion)







