Bandara Lede Kalumbang Tambolaka Jadi Pintu Utama Sumba ke Bali, UMK Kehilangan Akses Penerbangan Langsung

oleh
Water Salute warnai ceremonial penerbangan perdana batik Air ke Bandara Lede Kalumbang. Bupati SBD, Wakil Bupati Sumba Barat dan Sumba Tengah serta para tokoh masyarakat dan pengusaha hadiri pengguntingan pita dan rasakan kenyamanan kabin Batik Air-Foto Kolase: istimewa/Waingapu.Com

Waingapu.Com-Peta konektivitas udara Pulau Sumba, NTT berubah. Saat ini, Bandara Lede Kalumbang (Tambolaka) di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) menjadi satu-satunya gerbang udara yang menghubungkan Sumba dan Bali. Sementara Bandara Umbu Mehang Kunda (UMK) Waingapu, Sumba Timur, kehilangan rute langsung ke Denpasar setelah maskapai Wings Air menghentikan operasionalnya.

Perubahan ini tidak lahir tiba-tiba. Pembatasan jam operasional pesawat baling-baling (propeller) di Bandara Ngurah Rai Bali menjadi faktor utama. Otoritas bandara hanya mengizinkan penerbangan pesawat jenis ini beroperasi hingga pukul 12 siang.

Masalah muncul karena jadwal penerbangan Denpasar–Waingapu sebelumnya berada pada sore hari. Ketidaksinkronan jadwal itu membuat rute Denpasar–Waingapu tidak lagi bisa dilayani.

“Pesawat yang melayani rute Denpasar–Waingapu itu jadwalnya sore. Sementara yang diperbolehkan hanya sampai pukul 12 siang. Jadi otomatis tidak bisa beroperasi lagi,” jelas Kepala Bandar Udara Lede Kalumbang, Agus Priyatmono, saat dikonfirmasi wartawan Kamis (7/1/2026) via gawainya.

Wings Air pun akhirnya menarik rute Denpasar–Waingapu pulang pergi dari jadwal penerbangan mereka. Situasi ini berbanding terbalik dengan Tambolaka yang justru stabil dan terus terlayani.

Rute Denpasar–Tambolaka pulang pergi tetap berjalan normal karena jadwalnya berada di pagi hari hingga jelang siang, sesuai regulasi Bandara Ngurah Rai. Kondisi ini menjadikan Tambolaka semakin dominan sebagai pusat penerbangan ke Bali.

Di saat Waingapu kehilangan Wings Air, Tambolaka justru diperkuat dengan hadirnya dua maskapai jet berbadan besar, NAM Air dan Batik Air, yang mengoperasikan Boeing 737. Bahkan belum lama ini, Batik Air meresmikan penerbangan reguler menggunakan Airbus A320.

Bukan hanya urusan jadwal, persoalan teknis landasan Bandara Umbu Mehang Kunda turut menambah beban. Panjang runway yang hanya 1.850 meter serta adanya obstacle di kedua ujung runway membuat pesawat jet tidak bisa membawa penumpang maksimal.

“Khusus Boeing 737-500 daya angkut tidak bisa maksimum. Yang harusnya 130 penumpang, di sana hanya mampu sampai 110 penumpang karena dua kendala itu,” sambung Agus.

Pembatasan daya angkut berarti pembatasan keuntungan. Tak sedikit maskapai akhirnya memilih hengkang karena faktor profit tidak sebanding dengan risiko operasional.

Sebaliknya, Bandara Lede Kalumbang jauh lebih siap secara teknis. Runway sepanjang 2.500 meter dan lebar 45 meter, ditambah kondisi kedua ujung landasan bebas hambatan, membuat pesawat jet bisa terbang optimal.

“Di Tambolaka kapasitas maksimal masih bisa. Sampai 130 penumpang itu aman,” tegasnya.

Kini perhatian beralih ke Waingapu. Kepala Bandara Umbu Mehang Kunda, I Made Sutamayasa, mengakui Wings Air tidak lagi terbang Denpasar–Waingapu. Ia juga menegaskan belum ada kabar kembalinya Sriwijaya Air.

“Sriwijaya hanya sempat terbang satu bulan, lalu berhenti. Dari awal November sudah tidak lagi terbang ke Waingapu,” ungkapnya.

Sementara itu, Waingapu kini hanya bergantung pada rute ke Kupang dan Lombok. Kondisi yang membuat masyarakat, pelaku usaha, dan wisatawan harus beradaptasi dengan realitas baru: Tambolaka menjadi pintu utama ke Bali.(ion)