Waingapu.Com-Sumba Timur kembali menghadapi situasi pelik terkait ketahanan pangan. Di tengah gempuran perubahan iklim dan menurunnya keragaman pangan lokal, berbagai lembaga masyarakat sipil mulai menyuarakan keprihatinan. Kabupaten beriklim semi-arid itu kini dihadapkan pada tantangan multidimensi yang mengancam kualitas konsumsi pangan bergizi masyarakat.
Curah hujan yang timpang antara wilayah utara dan selatan menjadi tantangan pertama. Dengan rata-rata hanya 900–1.500 mm per tahun di bagian utara serta 1.600–2.000 mm di selatan, pola tanam masyarakat semakin bergantung penuh pada cuaca. Kondisi ini diperparah berkurangnya kesuburan tanah dan minimnya kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi pangan lokal secara berkelanjutan.
Di sisi lain, penganekaragaman pangan lokal yang selama bertahun-tahun diagungkan melalui Gerbang “Hilu Liwanya” justru belum sepenuhnya menjadi prioritas semua pemangku kepentingan. Padahal, singkong, ubi jalar, litang, hingga jagung lokal terbukti mampu menopang ketahanan pangan di tengah iklim kering Sumba Timur.
Kondisi ini mendorong Yayasan KOPPESDA dan Yayasan KEHATI menggagas program percontohan bertajuk Pengembangan Model Ketahanan dan Konsumsi Pangan Bergizi dan Berkelanjutan. Dua kelompok masyarakat dipilih sebagai penerima program, yakni Kelompok Ora Et Labora (Desa Luku Kamaru) dan Himbu Luri (Desa Tandulajangga), dengan total anggota 58 orang.
Program itu tidak sekadar menyasar budidaya tanaman, tetapi memperkuat pengetahuan masyarakat mengenai perubahan iklim, pertanian lahan kering, pengolahan pangan lokal B2SA, hingga penggunaan pupuk organik. Kegiatan itu juga didukung pemberian benih, bibit hortikultura, dan pengembangan lumbung pangan kelompok.
Untuk memastikan pendekatan yang tepat, dilakukan pula survei Indeks Kedaulatan Pangan (IKP) serta Kajian Participatory Rural Appraisal (PRA). Hasil kajian menunjukkan adanya penurunan pola usaha tani tradisional, degradasi kesuburan tanah, dan minimnya pengetahuan masyarakat tentang manfaat pangan lokal.
Hasil kajian ini kemudian diseminasi dalam sebuah semiloka pada 14 November 2025 di Aula Akper Waingapu beberapa hari lalu. Kegiatan yang menghadirkan unsur pemerintah, NGO, akademisi, dan kelompok masyarakat itu menjadi ruang dialog penting untuk merumuskan langkah strategis penguatan ketahanan pangan daerah.
Kadis Pertanian dan Pangan Sumba Timur, Nico Pandarangga, menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Menurutnya, sinergi dengan NGO, akademisi, pemerintah desa, dan petani milenial sangat penting untuk membangun sistem pangan yang tahan perubahan iklim.
Wakil Direktur Yayasan KEHATI, Gita Gemilang, menambahkan bahwa program ini adalah percontohan yang dapat direplikasi ke wilayah lain. “Kami ingin praktik baik yang muncul tidak berhenti di dua desa ini,” ujarnya.
Sementara itu, KOPPESDA menekankan pentingnya forum semiloka sebagai ruang bersama untuk menggali rekomendasi berkelanjutan. Dari diskusi itu, muncul setidaknya 17 rekomendasi strategis, mulai dari revitalisasi benih lokal, riset pertanian lahan kering, hingga penyusunan Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi.
Peserta semiloka juga mendorong penerbitan Peraturan Desa terkait pengembangan pangan lokal serta penggunaan Dana Desa minimal 20 persen untuk mendukung ketahanan pangan. Dorongan lain adalah agar media lebih aktif mengkampanyekan pentingnya konsumsi pangan lokal bergizi.
Dengan beragam tantangan dan peluang yang muncul, upaya mewujudkan ketahanan pangan bergizi di Sumba Timur kini memasuki babak baru. Stakeholder berharap momentum ini tidak hanya menghasilkan rekomendasi, tetapi juga langkah nyata di tingkat komunitas dan kebijakan daerah.(wyn)







