Waingapu.Com-Harga BBM nasional resmi diumumkan stabil untuk sejumlah jenis bahan bakar, namun di Pulau Sumba, NTT, kenyataan di lapangan seolah berjalan pada garis berbeda. Bila di kota-kota besar masyarakat menikmati kepastian pasokan, warga Sumba justru harus berjibaku dengan antrean panjang yang sangat enggan untuk pendek di dua SPBU utama di Waingapu.
Setiap hari, pemandangan serupa, sepeda motor dan mobil mengular hingga keluar halaman SPBU. Beberapa sopir bahkan rela meninggalkan kendaraannya sejak malam, hanya untuk memastikan mendapatkan solar atau Pertalite pada esok hari. Rutinitas yang tentunya memakan tenaga dan waktu.
Di SPBU Matawai dan SPBU Kilometer Dua, Kota Waingapu, antrean sudah menjadi lanskap tetap. Warga mengaku tak lagi kaget bila menemukan stok BBM habis sebelum siang hari. Dan yang pasti, tak jauh dari lokasi itu, penjual eceran menawarkan BBM dalam jeriken dengan harga yang melambung.
Situasi ini menimbulkan tanya besar di tengah masyarakat: jika BBM cepat habis di SPBU, oleh siapa dan ke mana sebenarnya alirannya? Pertanyaan sederhana yang belum mendapat jawaban. Upaya jurnalis untuk meminta klarifikasi dari Depo Pertamina Sumba Timur berlangsung tak hanya sekali, tetapi tanpa hasil.
Heinrich, seorang pekerja media lokal, Rabu (19/11/2025) menjadi salah satu saksi nyata betapa peliknya memperoleh solar di sumber resmi. Saat hendak menjemput tamunya di Sumba Barat Daya, ia sudah berkeliling tiga kabupaten: Tambolaka, Waikabubak, hingga Anakalang. Hasilnya nihil, tidak ada satu pun SPBU yang menjual solar hingga pukul 17.00 WITA. Hal itu menunjukkan betap meratanya kesulitan untuk mendapatkan BBM di sumber resmi.
Sungguh sebuah Ironi, saat SPBU sepi stok, kios-kios kecil di pinggir jalan justru punya pasokan melimpah.
“Di SPBU enam ribu delapan ratus, tapi di pengecer bisa sampai tiga belas ribu per liter,” ujar Heinrich. Perbedaan harga yang mencolok itu menambah beban masyarakat yang sudah terbiasa dengan ongkos hidup tinggi.
Warga berharap kondisi ini tidak dianggap lumrah. Apalagi pemerintah pusat terus menegaskan bahwa harga Pertalite dan Bio Solar tidak berubah secara nasional. Ketersediaan yang berbeda drastis di Sumba seolah menunjukkan ada rantai distribusi yang perlu ditelusuri satu per satu.
Kondisi yang sudah berlangsung berbulan-bulan ini menimbulkan ketidakpastian baru di sektor transportasi. Supir travel, logistik, dan pedagang antar-kabupaten kini harus memperhitungkan risiko kehabisan BBM di tengah jalan.
Sementara itu, Pertamina masih belum memberikan penjelasan resmi. Tanpa transparansi, isu-isu liar mulai berkembang: dari dugaan penimbunan, permainan pasokan, kendaraan pengangkut BBM ‘kencing’ di jalanan hingga pembagian kuota yang tidak merata. Masyarakat pun terjebak dalam lingkaran spekulasi tanpa kepastian.
Sesungguhnya, kebutuhan BBM di Sumba tidak melonjak secara tiba-tiba. Tidak ada hajatan besar, tidak ada musim puncak mudik, dan tidak ada bencana yang memicu lonjakan permintaan. Karena itu, ketidaksesuaian ini terasa semakin janggal.
Pemerintah daerah juga ikut terseret dalam tekanan publik untuk mendesak Pertamina membuka data dan memberi kepastian pengiriman. Sebab, tanpa BBM yang memadai, ekonomi Sumba dapat tersendat. Mulai dari distribusi hasil bumi hingga kegiatan pariwisata.
Antrean panjang hanyalah wajah kasat mata dari persoalan yang lebih besar: hilangnya rasa percaya bahwa BBM di SPBU adalah jaminan. Ironi itu terkumpul dalam satu pertanyaan yang terus berulang: mengapa SPBU cepat sekali kosong, tapi pengecer selalu penuh? Raja minyak dalam istana Pertamini terus bermunculan bak jamur di musim hujan.(ion)







