Pesona Bukit Piarakuku – Sumba Timur, Jeferson dan Pandemi Covid-19

oleh -136 views
Bukit Piarakuku

Waingapu. Com – Pesona bukit Piarakuku di desa persiapan Hawurut, Kecamatan Matawai Lapawu, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) – NTT, kian menarik seiring waktu bergulir. Jika saja tidak terjadi pandemi global berupa penyebaran Covid-19 yang masif, bukan mustahil lokasi ini dari hari ke hari akan makin ramai didatangi wisatawan domestik juga mancanegara. Daya tarik lokasi yang juga dikenal dengan Palindi Piarakuku juga Piarakuku Hills itu, sejatinya tak bisa lepas dari sosok Jeferson Tamu Ama.

Ama Tanarara atau Ama Ukir, demikian Jeferson biasa disapa oleh teman maupun kerabatnya itu, merupakan putera asli Sumtim, yang punya mimpi besar bagi lestarinya tradisi daerahnya, dalam hal pemanfaatan batu cadas khas Sumba menjadi sebuah pahatan atau ukiran khas yang lazim dikenal dengan sebutan Penji itu. Batu cadas yang dipahat atau diukir itu, dimasa silam diletakan bersisian dengan kuburan batu megalith khas Sumba. Namun seiring waktu, pahatan batu seperti ini menjadi pemanis gerbang juga taman, hal mana juga berjalan dengan realita pengukir batuan khas itu kian berkurang atau tinggal segelintir.

Baca Juga:  Dua Fraksi Tolak Ranperda & LKPJ Bupati & Wabup
Bukit Piarakuku

Diusianya menjelang 42 tahun itu, Ama Ukir tetap berupaya semaksimal mungkin untuk meraih mimpinya, mengenalkan pahatan batu khas Sumtim sekaligus menyandingkannya dengan pesona keunikan padang sabana. Hal inilah yang membuatnya dalam beberapa tahun terakhir menginisiasi dan mengelola bukit Piarakuku.

“Saya punya mimpi ini sudah lama dan bersambut dengan harapan dan mimpi yang sama dengan teman saya kak Dion Umbu Ana Lodu, kak Heinrich Dengi dan kak Oscar Tamu Ama. Mereka ini wartawan dan juga guru dan terus mendorong saya untuk terus maju dan pantang mundur dalam meraih mimpi itu, saran mereka itu terwujud saat ini di Piarakuku,” ungkap Ama ketika ditemui pekan lalu di bukit Piarakuku yang telah menjadi studio alamnya itu.

Yaa, Bukit Piarakuku memang telah berubah dan kian mempesona. Hamparan padang dan perbukitan dengan lekukan khasnya kini berpadu apik dengan karya-karya orisinil pahatan batu buah tangan Ama Ukir.

Baca Juga:  Bakar Padang Marak, Hot Spot di Sumba Terdeteksi Satelit

“Sebelum pandemi Covid-19 lalu, dalam sehari biasa ratusan orang datang secara bergelombang. Mereka dari luar pulau Sumba bahkan luar negeri. Ada yang datang untuk sekedar foto dan mengambil video, mengambil foto dan video prawedding bahkan ada juga yang membuat film. Namun setelah pandemi, tempat ini menjadi sepi,” jelasnya.

Bukit Piarakuku

Namun sejak Pandemi Covid-19 disikapi tidak dengan kepanikan, dan menerapkan protokol kesehatan ketat, kata Ama Ukir lebih lanjut, bukit Piarakuku kini mulai kembali bergairah dan sedikit lebih riuh oleh kunjungan wisatawan. “

Dulu di masa awal Pandemi Covid-19, saya tutup total lokasi ini. Namun kemudian karena pemerintah memperlakukan PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, -red) lokasi ini saya buka kembali namun setiap pengunjung wajib patuhi protokol kesehatan diantaranya memakai masker, menjaga jarak dengan pengunjung atau rombongan lain dan juga sering mencuci tangan dengan hand sanitizer. Saya dan adik-adik di sini selalu ingatkan itu kepada pengujung yang memang kami batasi masuk ke lokasi,” paparnya.

Baca Juga:  Lantik 340 Pejabat, Bupati Sumba Timur Siap Tanggung Jawab Dunia & Akhirat

Selalu ada hikmah dibalik problema, demikian yang nampak terjadi pada Ama Ukir dan studio alamnya di Palindi Piarakuku ini. Ketika sepi pengunjung karena dampak pandemi Covid-19, justru dirinya bisa lebih banyak waktu untuk menata dan menuangkan ide serta kreatitasnya.

“Saya bisa lebih konsentrasi untuk mengukir dan menata patung-patung dan Penji di sini, terutama patung yang terbesar dan menjadi mascot di sini. Selain itu beberapa bulan lalu saya juga telah tuntaskan penggalian terowongan yang juga menarik karena berada di bawah bukit kecil, menuju salah satu spot air terjun. Tapi kalau ada yang tamu berkunjung silakan, tarifnya murah yakni lima ribu untuk anak dan 10 ribu bagi orang dewasa. Tapi yang wajib adalah terapkan protokol kesehatan dan mau untuk diatur dan mengatur diri agar tidak bertumpuk dan bergerombol,” pungkas Ama Ukir. (ion)

Komentar