Jakarta, Waingapu.Com — Tanggal 31 Mei 2025 bukan sekadar hari biasa. Ini adalah Hari Tanpa Tembakau Sedunia, saat di mana anak muda diingatkan bahwa rokok bukan soal keren atau gaya hidup — tapi bahaya yang nyata.
Manik Marganamahendra dari IYCTC mengingatkan bahwa iklan rokok kini menyamar dalam banyak bentuk: dari media sosial, acara musik, sampai kemasan lucu. “Mereka buat seolah-olah merokok itu inspiratif. Padahal, ini jebakan yang bikin kecanduan dan rusak masa depan,” katanya tegas.
Data terbaru dari Kemenkes lewat Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa anak usia 10–14 tahun pun sudah mulai merokok. Jumlah perokok aktif di Indonesia menyentuh angka 70 juta, dan usia 15–19 tahun jadi kelompok terbesar.
Nina Samidi dari Komite Nasional Pengendalian Tembakau menilai bahwa kemunculan produk seperti vape justru memperluas ruang manipulasi. “Banyak yang mengira vape lebih aman, padahal tetap berbahaya. Pemerintah harus batasi desain dan iklan yang menggoda,” ujarnya.
Sementara itu, Beladenta Amalia dari CISDI menyebut satu solusi sederhana tapi berdampak besar: naikkan harga rokok. “Anak muda lebih mikir dua kali kalau harga rokok naik. Studi kami bilang kenaikan 10% bisa turunkan minat mereka hingga 20%,” ungkapnya.
Menutup peringatan HTTS tahun ini, ratusan anak muda akan turun langsung ke Car Free Day Depok pada Minggu, 1 Juni 2025 dalam SOS Fest. Dengan semangat sehat dan aksi nyata, mereka ingin tunjukkan: anak muda bukan target pasar rokok — tapi pejuang hidup sehat!(ion)




