Waingapu.Com – Kecamatan Kambera hingga kini masih terus memerangi tingginya angka anak penderita stunting. Hal itu dikatakan Pemekar H. Djanggakadu, Camat setempat kepada media ini ketika ditemui di aula Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina) – Waingapu belum lama ini.
Stunting atau masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga berdampak gangguan pertumbuhan pada anak, seperti tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya, hingga kini masih menjadi masalah yang dihadapi warga dan pemerintah setempat.
“Februari 2020 lalu sempat ada pada angka 191 orang. Kemudian data terkahir Februari 2021 ini turun menjadi 95 orang. Pendataan biasa bulan Februari atau Agustus. Ini bisa tinggi karena sebelumnya kita belum sepenuhnya paham tentang stunting, setelah jadi program nasional barulah kita berupaya untuk menekannnya,” jelas Pemekar.
Intervensi untuk menekan angka stunting itu, kata Pemekar dilakukan dengan menggunakan dana pemberdayaan di tingkat kelurahan.
“Dana pemberdayaan di Kelurahan kita intervensi untuk setiap Posyandu diberikan makanan tambahan bagi anak. Juga ibu hamil kita berikan asupan gizi. Karena kami akhirnya memahami bahwa seribu hari pertama kehidupan adalah yang paling penting bagi tumbuh kembang anak ke depannya,” urainya.
Untuk memerangi stunting ditengah pandemi Covid-19 yang kini belum berakhir, Pemekar juga menaruh harap bantuan pihak lainnya di luar pemerintah.
“Tidak bisa kalau sekarang ini kita hanya harapkan bantuan dana dari pemerintah untuk memerangi stunting dimasa Pandemi Covid-19 ini. Dukungan dari pihak swasta dan lembaga non pemerintah yang peduli kita sanga butuhkan,” harapnya sembari mengucapkan terima kasih kepada insan media yang selalu memberikan informasi sesuai fakta dan realita di lapangan baik dimasa sebelum bencana seroja, pasca seroja dan juga tentang keadaan ekonomi dan kesehatan di wilayah kecamatan yang dipimpinnya itu. (ion)