Waingapu.Com– Waingapu menjadi pusat gema perlindungan anak dan perempuan lewat Lokakarya Safeguarding/PSEAH yang digelar sejak 2–4 September 2025 di Aula Pada Dita Beach. Peserta berasal dari berbagai daerah di NTT, mulai dari Belu, Malaka, Kupang, Flores Timur, Sikka, hingga Ende.
Reny R. Haning, Specialist Senior Child Protection & Advocacy ChildFund, menyebut pelatihan ini bukan sekadar teori, melainkan praktik nyata. “Peserta membawa dokumen kelembagaan masing-masing, seperti kode etik ASN, SOP, dan kebijakan daerah. Jadi hasilnya bisa langsung diaplikasikan,” katanya.
Menurut Reny, tujuan lokakarya ini adalah menyiapkan layanan publik yang berintegritas dengan sistem rujukan yang berpihak pada korban. “Kami ingin memastikan mekanisme rujukan tertata, sehingga penyintas tidak merasa sendirian,” jelasnya.
Anto Kila, Project Manager SID, menambahkan bahwa lokakarya ini sekaligus momentum memperkuat koordinasi lintas daerah. “Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan tidak bisa ditangani sendiri-sendiri. Kita butuh jejaring yang solid,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan soal data kekerasan di Sumba Timur. “Ada 276 kasus sejak 2021, termasuk 144 kasus kekerasan seksual pada anak. Angka ini harus menjadi peringatan keras,” katanya.
Sementara itu, Sekda Sumba Timur Umbu Ngadu Ndamu menegaskan pemerintah siap bekerja sama. “Adat kita sudah mengajarkan penghormatan kepada perempuan. Maka kekerasan ini harus kita lawan bersama, baik lewat regulasi maupun lewat budaya,” tegasnya.
Lokakarya ini menggunakan metode diskusi kelompok, studi kasus, hingga role play untuk memperdalam pemahaman peserta. Pesan utamanya adalah mendorong setiap daerah menguatkan mekanisme perlindungan di wilayah masing-masing.
“Dari Waingapu, kita ingin pesan safeguarding ini menyebar ke seluruh NTT, agar tidak ada lagi anak dan perempuan yang menjadi korban,” pungkas Reny.(ion)







