Ende, Waingapu.Com-Persewa Waingapu harus berada dalam ketidakpastian melaju ke babak 16 besar El Tari Memorial Cup (ETMC) 34 setelah gagal memanfaatkan momentum kemenangan penting atas juara bertahan Bintang Timur Atambua FC. Hasil 3 – 1 yang sempat menggetarkan publik Sumba Timur itu sebenarnya membuka jalan terang bagi Persewa untuk keluar dari fase grup.
Kemenangan tersebut bukan keberuntungan belaka. Persewa tampil penuh karakter, tampil berani dalam duel fisik, dan mampu mengimbangi permainan agresif Bintang Timur.
Namun euforia itu tidak berlangsung lama. Akumulasi kartu yang menimpa centerback utama Persewa, Ryan Prayoga, menjadi pukulan tersendiri. Absennya Ryan terasa sangat signifikan mengingat perannya sebagai pembaca permainan dan penjaga keseimbangan lini belakang.
Laga hidup-mati menghadapi PS Malaka di Stadion Marilonga Ende, Jumat (21/11/2025), nampak jelas pentingnya figur Ryan, yang diharapkan, mampu disiasati tim pelatih. Pertandingan ini menentukan siapa yang mendampingi Persamba Manggarai Barat menuju fase gugur.
Padahal Persewa sempat mencuri momentum lebih dulu. Pada menit ke-21, Dion Umbu Leda membawa Persewa unggul lewat sundulan yang sempat membentur pemain PS Malaka sebelum masuk ke gawang. Gol itu sempat menghadirkan optimisme baru bahwa Persewa mampu mengendalikan pertandingan.
Namun hanya dalam hitungan tiga menit, PS Malaka memberi respons cepat. Melalui situasi sepak pojok, Rikard Bele menuntaskan peluang dengan sundulan keras yang membuat kedudukan kembali imbang. Gol balasan ini menjadi titik balik yang mengguncang konsentrasi Persewa.
Pasca gol tersebut, ketenangan Persewa mulai goyah. Pelanggaran-pelanggaran tidak perlu muncul, salah satunya kartu kuning Dion Umbu Leda dua menit setelah skor berimbang. Dalam laga penentuan seperti ini, detail kecil seperti ketenangan dan kestabilan mental sering kali menjadi pembeda.
Momen krusial kembali hadir pada menit ke-36 ketika penjaga gawang Persewa melakukan pelanggaran di kotak penalti. Situasi ini terjadi karena tidak ada pemain belakang yang cepat mengisi ruang kosong untuk mengawal area gawang saat sang kiper keluar mematahkan umpan terobosan. Penalti itu dieksekusi sempurna oleh Yoko Jehaman, membawa PS Malaka berbalik unggul 2 – 1.
Sebelum jeda babak pertama, petaka kembali terjadi. Lagi-lagi Yoko Jehaman memanfaatkan kelemahan Persewa dalam mengantisipasi serangan direct. Ia mencetak gol keduanya dan membuat pertahanan Persewa tampak kehilangan arah tanpa sosok pemimpin lini belakang.
Memasuki babak kedua, Persewa berusaha bangkit dan memperkecil ketertinggalan melalui Henrick Hina yang memanfaatkan umpan silang tajam dari sisi kanan. Gol ini sempat membangkitkan asa, namun PS Malaka tetap tampil lebih matang dalam merespons tekanan.
Pada menit ke-83, Yoko Jehaman kembali menjadi mimpi buruk bagi Persewa. Melalui sebuah umpan direct, ia memenangi duel kecepatan meski diapit dua pemain belakang dan mencetak gol ketiganya untuk menggenapi hattrick. Gol ini sekaligus menandai rapuhnya koordinasi garis pertahanan Persewa yang kehilangan sosok pengarah utama.
Kekalahan ini menjadi pukulan berat bagi Persewa Waingapu, terlebih karena secara kualitas permainan mereka mampu mengimbangi Persamba Manggarai yang justru keluar sebagai juara Grup F. Namun ETMC bukan hanya panggung kualitas teknis, ia juga pertandingan tentang manajemen tekanan, adaptasi taktik, serta kecerdasan membaca momentum.
Meski demikian, peluang Persewa untuk lolos belum sepenuhnya tertutup. Mereka kini menempati posisi ketiga Grup F dan masih berpeluang melaju ke babak 16 besar melalui jalur tiga tim peringkat ketiga terbaik. Nasib mereka akan ditentukan oleh hasil pertandingan Grup lain yaitu Persada Sumba Barat Daya vs Nirwana 04 Nagekeo. Jika laga tersebut berakhir imbang, Persewa otomatis lolos ke fase gugur. Dengan kata lain, harapan masih ada meski tipis dan berada di luar kendali mereka.(Oris Goti/Jurnalis Metro TV dan Pemerhati Sepak Bola NTT)







