Masyarakat yang Cerdas & Kreatif, Niscaya Mampu Minimalkan Angka Pengangguran di Sumba Barat

oleh
Lidia Nora Putarato

Pulau Sumba adalah pulau yang indah. Mengapa saya sebut indah? Karena menurut saya pulau Sumba itu indah budayanya, indah bahasanya, indah cara berpakaian atau busana khasnya, indah alamnya, dan juga masyrakatnya indah di dalam perbedaan yang menyatukan mereka. Karena keindahan pulau Sumba inilah yang menarik wisatawan asing untuk mengunjungi Pulau Sumba, baik wisatawan dalam negeri maupun wisatawan yang berasal dari luar negeri. 

Pulau Sumba dikenal dengan tempat wisata alamya yang sangat menarik seperti air terjun Lapopu, kampung Tarung, Nihiwatu beach, Pantai Watu Bella, dan masih banyak lagi tempat wisata lainnya, dan juga Kuda Sandelwood yang menambah pesona Sumba. Akan tetapi keindahan dari setiap tempat tidak pernah terlepas dari berbagai persoalan sosial contohnya adalah pengangguran.

Berbicara mengenai persoalan sosial pengangguran ini, bukan lagi masalah yang baru dan juga khusus di kalangan masyarakat sampai ke pemerintah akan tetapi sudah menjadi masalah yang sangat besar di Indonesia. Bahkan yang lebih disayangkan lagi adalah pengangguran tersebut kebanyakan berasal dari kalangan muda yang seharusnya pada masa-masa muda itu mereka memiliki daya saing dan juga semangat yang masih membara di dalam diri mereka untuk bekerja dan juga mencari penghasilan. 

Oleh karena itu, pemerintah Sumba Barat membuat banyak upaya untuk mengurangi penggangguran dan pada tahun 2022 ini khususnya di wilayah Sumba Barat, save the children yang bekerja sama dengan Stimuland institute menjalankan project pendidikan ketenagakerjaan orang muda atau YEE. 

Sedikit saya kutip dari webside resmi Sumba Barat bahwa project Pendidikan ketenagakerjaan orang muda ini dilaksanakan selama 12 bulan, sesuai dengan namanya project ini juga difokuskan pada orang muda yang berusia 15 sampai 24 tahun disekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan anak-anak putus sekolah yang dinaungi komunitas. 

Baca Juga:  Sepuluh Juta Pohon Ditanam Tandai Aksi Nyata GNRM di Sumba Barat 

Tetapi upaya yang dilakukan pemerintah dan juga organisasi-organisasi tersebut tentunya harus didasari oleh keinginan yang tumbuh dari dalam diri kita sebagai anak-anak muda, karena ke depannya yang meneruskan bangsa ini bukan lagi orang-orangnya yang sekarang menjabat tetapi kitalah yang ke depannya akan meneruskan bangsa ini. 

Hal penting yang harus kita ingat di sini yaitu bahwa kebutuhan hidup semakin hari semakin meningkat mengikuti dengan tuntutan zaman yang tentunya semakin hari semakin berbeda dan berubah pula. Untuk memenuhi kebutuhan hidup yang keras seperti saat ini seseorang sangat membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 

Tetapi kita juga ketahui bahwa  persaingan dalam dunia pekerjaan sangat ketat karena setiap orang ingin mempunyai pekerjaan yang layak yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut. Setiap orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pekerjaan yang bisa memenuhi kebutuhan hidup baik untuk masa sekarang ataupun masa yang akan datang. Tetapi untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan dibutuhkan dorongan dari dalam diri sendiri agar menghilangkan rasa malas yang ada atau lebih di kenal dengan istilah yang saat ini trend dikalangan muda “mager” atau lebih tepatnya malas gerak. 

Malas gerak ini akhirnya yang dapat menimbulkan benih-benih pengangguran yang muncul di dalam diri, maka dari itu perlu adanya sosialisasi penyadaran akan bahaya dampak dari rasa malas yang dapat berakibat pada pengangguran dan akhirnya berujung pada kemiskinan. 

Yang menjadi alasan utama timbulnya permasalahan sosial pengangguran salah satunya adalah kurangnya lapangan kerja yang tersedia sedangkan tenaga kerja semakin meningkat setiap harinya. Karena melihat konflik pengangguran yang meningkat maka untuk meminimal jumlah pengangguran tersebut, masyarakat Sumba mulai mencari jalan keluar dengan membuka lapangan pekerjaan baru dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada. 

Baca Juga:  Sekilas Mengenal AKBP. Michael Irwan, Kapolres Sumba Barat Yang Baru

Salah satu cara yang dilakukan yaitu membuka cafe dan juga rumah makan sebagai tempat persinggahan wisatawan ketika berkunjung ke Sumba, rumah makan yang di buka juga kebanyakan bertemakan ciri khas Sumba misalnya makanan khas Sumba seperti kapu patunu atau sayur jantung pisang, padapet watara, kaparak Sumba, nga’a watara patau kabbe dan makanan khas lainnya ataupun desain yang menunjukkan ciri khas dari Pulau tersebut seperti menghias menggunakan beraneka ragam kain tenun sumba dengan motif atau di Sumba biasa di sebut dengan istilah “bunga” yaitu gambar Mamuli, gambar rumah adat, gambar ayam, gambar kuda, dan gambar motif cantik lainnya. 

Bahkan tidak jarang juga yang mendesain tempat makan dengan berbentukkan rumah adat khas Sumba yaitu rumah panggung dengan atap tinggi yang terlihat seperti menara, tujuan dari desain tersebut untuk menarik perhatian pengunjung agar datang ke tempatnya. Dan hal yang menarik di sini adalah bahwa yang bekerja di tempat-tempat makan ini berasal dari kalangan masyarakat Sumba sendiri, karena untuk memasak makanan khas daerah Sumba tentunya harus di masak oleh orang yang memang terbiasa dengan cita rasanya agar dapat memasakkan makanan tersebut dan menunjukkan kekhasan dari makanan tersebut. Tidak menutup kemungkinan orang dari luar pulau juga dapat memasak dengan cita rasa yang sama tetapi jauh lebih menarik apa bisa di masak oleh orang yang memang asli berasal dari Sumba.

Seperti yang diketahui bahwa Sumba merupakan pulau yang masih menjalankan kepercayaan lama dengan taat yaitu “Marapu”. Maka bukan hanya tempat makan, tetapi masyarakat di Sumba juga mampu memanfaat potensi rumah adat-rumah adat sebagai daya tarik wisatawan seperti di Kampung Tarung-Waitabar sebagai kampung tempat ritual adat yang terletak di Wailiang, Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat. 

Baca Juga:  Sekilas Wulla Poddu (Bulan Pahit) - Sebuah Ritual Adat di Sumba Barat 

Ibu-ibu yang tinggal di Kampung Tarung-Waitabar sebagian besar pandai menenun, kain yang di tenunpun bukan sembarangan kain tetapi kain adat khas Sumba yang dapat di jualkan kepada para pengunjung yang mengunjungi kampung Tarung. Tetapi bukan hanya kain tenun, mereka biasanya juga menjual kalung, anting dan gelang anahida, kalung dengan mainan bentuk mamuli ataupun bentuk parang yang dibuat dari tanduk kerbau dan bahkan selempangan yang bisa di request membentuk tulisan nama dari si pembeli. 

Selanjutnya masyarakat Sumba juga membuka rumah-rumah aksesoris sebagai tempat singgah untuk membeli oleh-oleh khas Sumba seperti kain tenun, kalung, gelang, dan juga anting baik yang dari anahida ataupun yang mempunya mainan berbentuk menarik yang terbuat dari tanduk kerbau. Rumah aksesoris tersebut bukan hanya menjual aksesoris-aksesoris tetapi juga menyedia tempat foto dengan menyewa aksesoris tersebut untuk di pakai pada saat foto. Pengadaan kain tenun di rumah-rumah aksesoris tentunya akan bekerja sama dengan penenun pilihan atau kenalan dengan syarat ataupun perjanjian-perjanjian tertentu untuk penyediaan stok kain tenun yang ingin di jualkan.

Dengan hal-hal ini maka secara langsung masyarakat Sumba mampu mandiri untuk menangani kasus konflik sosial yaitu pengangguran dan masyarakat Sumba juga mampu menjadi masyarakat yang cerdas dengan mengelola suatu persoalan menjadi peluang untuk mendapatkan penghasilan. Seperti salah satu pemetaan tentang kewirausahaan yang dilakukan oleh Bornstein (2004, dalam Nicholls, 2008:14) yaitu pendidikan atau pelatihan, seperti usaha melebarkan partisipasi dan demokratisasi transfer pengetahuan. Jika dihuhungkan pemetaan ini dengan cara penyelesaian yang ada, maka ditemu keterhubungan dimana save the Children melakukan project pendidikan ketenagakerjaan untuk orang muda dan hal ini dilakukan untuk membekali orang muda dengan pelatihan tadi. 

Penulis: Lidia Nora Putarato, Mahasiswi Prodi PPKn, Universitas PGRI Kanjuruhan, Malang

Komentar