Mendengarkan Musik Apakah Dapat Mengurangi Nyeri Haid?

oleh
dr. Aldo Anapaku

Menstruasi adalah periode pengeluaran darah dari uterus yang disebabkan oleh luruhnya endometrium pada wanita usia subur. Menstruasi terjadi hampir setiap ± 28 hari selama masa reproduktif. Ada beberapa gangguan menstruasi diantaranya adalah premenstrual tension (ketegangan pra menstruasi), mastodinia (nyeri pada payudara), dan dismenore (nyeri menstruasi). Dismenore adalah nyeri yang timbul saat terjadinya menstruasi. Rasa nyeri ini sering diikuti dengan rasa mual, sakit kepala perasaan mau pingsan dan lekas marah. Dismenore menyebabkan terganggunya aktivitas sehari-hari. Keadaan ini sering dihubungkan dengan ketidakhadiran siswa di sekolah ataupun wanita di tempat kerja. Adapun yang tetap beraktivitas, namun mereka merasa sangat terganggu dan tidak dapat berkonsentrasi pada hal yang sedang dikerjakan. Dampak dismenore yang terjadi adalah penurunan produktivitas belajar dan kerja, hubungan sosial terganggu dan economic loss. 

Angka kejadian nyeri menstruasi di dunia sangat besar, rata-rata lebih 50% perempuan disetiap negara mengalami nyeri menstruasi. Sebuah studi epidemiologi pada populasi remaja berusia 12-17 tahun di Amerika Serikat, melaporkan prevalensi nyeri menstruasi 59,7%, yang mengeluh nyeri berat 12%, sedang 37%, dan ringan 49%. Kejadian ini menyebabkan 14% remaja sering tidak masuk sekolah. Hampir 2/3 remaja post menarche di Amerika Serikat mengalami nyeri menstruasi, 10% dari mereka begitu menderita sehingga tidak bisa masuk sekolah, sehingga nyeri menstruasi merupakan penyebab utama absensi pada remaja wanita. Sebuah penelitian di Swedia melaporkan nyeri menstruasi pada wanita yang berusia kurang dari 19 tahun mencapai 90% dan pada wanita yang berusia 24 tahun mencapai 67%, dan pada usia 19-21 tahun mencapai 80%, dimana diantaranya 15% membatasi aktivitas harian ketika menstruasi dan membutuhkan obat-obatan penangkal nyeri, 8-10% tidak mengikuti atau masuk sekolah dan hampir 40% memerlukan pengobatan medis. Keadaan ini dapat berdampak buruk bagi pendidikan, finansial maupun kualitas hidup perempuan. 

Baca Juga:  Indonesia Peringkat tertinggi Penderita Katarak Se Asia Tenggara

Angka kejadian nyeri menstruasi primer di Indonesia mencapai 54,89%, sedangkan sisanya adalah penderita tipe sekunder, yang menyebabkan mereka tidak mampu melakukan kegiatan apapun dan ini akan menurunkan kualitas hidup pada masing-masing individu. Nyeri menstruasi menyebabkan gangguan aktivitas sehari-hari dan harus absen dari sekolah 1-7 hari setiap bulannya pada 15% responden berusia 15–17 tahun. Remaja yang mengalami nyeri menstruasi berat mendapat nilai yang rendah (6,5%), menurunnya konsentrasi (87,1%) dan absen dari sekolah (80,6%). 

Salah satu cara mengurangi nyeri menstruasi adalah dengan distraksi. Distraksi adalah membuat tubuh menjadi rileks. Musik adalah salah satu distraksi, yaitu dengan mendengarkannya secara teratur maka musik akan membuat tubuh kita menjadi rileks dan tenang sehingga merangsang tubuh kita untuk memproduksi endorfin yaitu suatu neurotransmitter inhibisi yang merupakan golongan opioid endogen yang akan memblok reseptor nyeri. Musik juga terbukti menunjukkan efek yaitu mengurangi kecemasan dan depresi, menurunkan tekanan darah dan menurunkan frekuensi denyut jantung. Musik bukanlah hal yang asing lagi bagi orang-orang, hampir semua orang di seluruh dunia mendengarkan musik sesuai dengan jenis musik favoritnya. Bagi beberapa orang musik telah menjadi gaya hidup, seiring dengan perkembangan zaman musik tidak lagi hanya digunakan sebatas didengarkan saja, tetapi juga dapat digunakan sebagai terapi alternatif untuk beberapa penyakit. 

Baca Juga:  Hadapi Covid 19 & Belalang Kembara Dalam Kebersamaan

Salah satu jenis musik yang digunakan adalah musik klasik. Musik klasik sendiri merupakan musik yang lahir dari budaya barat (Eropa), yang berakar dari musik barat liturgi dan musik sekuler. Muncul pada tahun 1750, musik klasik menjadi dasar dari perkembangan musik selanjutnya. Banyak orang yang meneliti tentang seberapa efektif terapi musik klasik dalam mengatasi stres maupun dismenore, karena mereka meyakini bahwa terapi musik klasik dapat memberi pengaruh yang baik terhadap seseorang.

Penulis: Arlando Martino Anapaku (Dokter Umum pada Puskesmas Ngadu Ngala – Sumba Timur)

Komentar