Sumba Timur Zona Hijau Covid-19, Kini ‘Lampu Kuning’ DBD Menyala

oleh -54 Dilihat
Jonker

Waingapu.Com – Sumba Timur kini masih berada dalam zona hijau atau masih nol kasus warga yang terdeteksi terpapar virus Covid-19. Namun demikian ‘lampu kuning’ atau warning akan penyebaran Deman Berdarah Dengue (DBD) nyala dan beri sinyal untuk diwaspadai. Yaa, hingga kini sebagian besar wilayah Kabupaten Sumba Timur sering diguyur hujan dengan intensitas yang cukup tinggi. Kondisi itu sudah tentu berdampak pada kian tingginya potensi potensi tumbuh kembangnya jentik-jentik nyamuk demam berdarah. Oleh karena itu, adalah bijak jika warga minimal menerapkan 3 (tiga) M yakni sering Menguras tempat penampungan air, Menutupnya dan juga Menguburkan benda-benda yang bisa menampung air yang merupakan tempat ideal bagi habitat nyamuk demam berdarah.

Baca Juga:  Pasien 032 Sembuh dari Covid-19 Tapi Belum Dipulangkan, Alasannya?

“Gerakan 3M merupakan cara ampuh untuk menekan angka penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue atau DBD. Selain itu perlu pula menghindari gigigtan nyamuk dengan tidur menggunakan kelambu atau gunakan obat nyamuk. Bayangkan jika kena DBD tentu akan lebih rentan terkena paparan Covid-19,” tandas Jonker Telnoni, Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumba Timur, ketika ditemui wartawan di ruang kerjanya, Jumat (07/01) lalu.

Ancaman serangan DBD janganlah dipandang sebelah mata, kata Jonker. Pasalnya Sumba Timur punya ‘catatan sejarah kelam’ dimana pada tahun 2019 silam pernah terjadi Kasus Luar Biasa (KLB) DBD. Ancaman nyata DBD merealita pula pada tahun 2021 lalu, dimana tercatat terjadi 41 kasus yang tersebar di sejumlah wilayah Sumba Timur.

Baca Juga:  Turunkan Level PPKM di Sumba Timur, Optimalkan Fungsi ISOTER Hingga Tingkat Desa

“Tahun 2021 lalu tercatat 41 kasus DBD. Kalau untuk tahun 2022, hingga hari ini memang baru tercatat satu kasus, namun warga harus ingat bahwa, kita harus belajar dari pengalaman, bahwa di msuim penghujan adalah saat yang paling rawan terjadinya DBD,”urainya.

Pemerintah melalui Diinas Kesehatan dan seluruh elemen di seluruh Fasiltas Kesehatan yang ada, sebut Jonker, akan terus menggencarkan penyuluhan, himbauan atau sosialisasi juga tentunya abatetisasi.

“Program Jumat bersih yang kini tetap dan terus digalakan tentu juga akan optimal jika semua pihak berpartisipasi aktif,” timpalnya. (ion)

Komentar