Dari kalangan akademisi, Rektor UNKRISWINA Sumba Umbu Ho Ara membawakan materi “Paradigma Baru Pembangunan Berbasis Keunggulan Daerah dan Perspektif Keadilan Ekologis di Kabupaten Sumba Timur”. Ia menekankan agar pembangunan Sumba Timur kembali pada nilai filosofis “Mata Wai Amahu-Pada Djara Hamu” dalam arti luas.
Menurut Umbu Ho Ara, sektor unggulan Kabupaten Sumba Timur berada pada pertanian dan peternakan. Pandangan tersebut menjadi bagian dari diskusi ketika peserta membahas tekanan terhadap lingkungan, termasuk aktivitas pertambangan emas ilegal di sekitar kawasan Taman Nasional Laiwanggi-Matalawa.
Pemateri berikutnya, Pdt. Aprianus Njangga Uma selaku Sekum GKS yang mewakili rohaniawan, mengangkat materi “Panggilan Iman untuk Menjaga Keutuhan Ciptaan di Pulau Sumba”. Ia menyampaikan bahwa peringatan Hari Keadilan Ekologis sejalan dengan program PGI dan Sinode GKS.
Pdt. Aprianus mengatakan Sinode GKS telah menetapkan Oktober dan November 2026 sebagai waktu pelaksanaan kegiatan konservasi oleh 295 jemaat di Pulau Sumba. Sinode GKS juga sedang menyusun kurikulum mengenai kelestarian ekologis, termasuk perubahan iklim dan GEDSI. Dalam diskusi, ia secara khusus mengimbau 30 anggota DPRD Sumba Timur memiliki kepedulian terhadap pelestarian lingkungan hidup.
Dari perwakilan kaum muda, Alfons Ratukani membawakan materi “Harapan tentang Keadilan Ekologis Antar Generasi”. Ia menekankan bahwa keadilan ekologis bukan hanya menyangkut bagaimana lingkungan dijaga saat ini, tetapi juga tanggung jawab lintas generasi agar sumber daya alam dan ekosistem tetap dapat dinikmati serta dimanfaatkan secara adil oleh generasi mendatang.
Sementara itu, Direktur Yayasan KOPPESDA Deni Karanggulimu mewakili masyarakat sipil membawakan materi “Peran Strategis Masyarakat Sipil dalam Mewujudkan Keadilan Ekologis di Pulau Sumba”. Deni sekaligus membacakan materi Pater Mikhael M. Keraf yang berhalangan hadir karena sakit.
Dalam materi tersebut ditegaskan bahwa masyarakat sipil tidak hanya terdiri dari LSM, tetapi juga masyarakat adat, petani, nelayan, perempuan, orang muda, komunitas, organisasi keagamaan, akademisi, jurnalis, kelompok lingkungan, organisasi sosial dan berbagai kelompok warga.







