Warga Desa Persiapan Prailangina Diantara Takut & Rindu Vaksin Covid-19

oleh -143 views
Umbu Herung Majangga

Waingapu.Com – Gencarnya pelaksanaan vaksin di Indonesia juga dirasakan pada sejumlah wilayah di kabupaten Sumba Timur, NTT. Namun sayang pelaksanaannya belum diimbangi dengan sosialisasi manfaat vaksin sebagai salah satu pemutus mata rantai sebaran Covid-19, juga penjelasan seputar dampak ikutan pasca vaksin dan cara menyikapinya. Tak heran jika dibeberapa daerah khususnya yang minim akan akses informasi, masih ada warga yang berada di persimpangan yakni merindukan vaksin namun juga takut.

“Waktu yang lalu ada vaksin, hanya 33 orang yang dilayani padahal saat itu banyak warga yang mau divaksin. Tapi ternyata vaksin yang dibawa petugas terbatas, jadi sempat macam mau berkelahi warga untuk dapat vaksin saat itu,” ungkap Umbu Herung Majangga, Penjabat Kepala Desa Persiapan Prailangina kepada wartawan ketika ditemui pekan lalu.

Baca Juga:  Di Sumba, Kabupaten Sumba Timur Terendah Kepesertaan BPJS

Kerinduan warga untuk divaksin kala itu kata Umbu Herung nampak dari kesiapan 200 warganya yang datang. Namun karena yang dilayani hanya 33 orang, yang lainnya pulang dengan kecewa. Menariknya, kata dia lebih lanjut, dari 33 warga yang sudha divaksin itu beberpa diantaranya ada yang sakit demam, menggigil dan sakit kepala.

“Melihat ada tetangga atau warga yang saat itu divaksin dan besoknya alami sakit, warga yang lain tidak mau ambil bagian lagi dalam vaksin berikutnya. Vaksin kedua yang ikut hanya 20 orang saja. Semoga jadwal vaksin berikutnya petugas juga beri penjelasan pada warga efek samping atau dampak pasca vaksin serta bagaimana menanggulanginya, biar masyarakat nyaman dan lebih siap lagi,” papar Umbu Herung.

Baca Juga:  Di Sumba Timur, Tiga Orang Sembuh, Sembilan Sampel SWAB Dikirim

Dalam kesempatan ini, umbu Herung dans eorang warga lainnya juga menuturkan hingga kini Prailangina memang masih dalam zona hijau. Hanya saja kata dia pada bulan April silam banyak warga yang alami gejala-gejala seperti halnya Covid-19.

“Kalau bulan april lalu banyak warga yang alami gejala macam Covid-19. Batuk pilek lama lebih dari 10 hari, hilang indera penciuman dan perasa bahkan ada yang sampai seperti orang diare, BAB hanya lendir yang banyak keluar. Tapi kemudian hilang sendiri, dan bisa sembuh. Kami sungguh berharap nanti petugas kesehatan bisa berikan pemahaman lebih jauh akan gejala dan bahanya Covid-19 juga manfaat vaksin,” pungkasnya.

Hendrik Hamba Pulu

Diberitakan sebelumnya, warga desa Napu di kecamatan Haharu, juga menyatakan masih minimnya sosialisasi terkait manfaat vaksin. Hal itu membuat warga dengan mudah terprovokasi isu-isu yang justru tidak bisa dipertanggungjawabkan. Khabar terkait vaksin bisa menimbulkan kematian bagi penerimanya justru bergulir lebih cepat dari mulut ke mulut. Sehubungan dengan realita itu, Hendrik Hamba Pulu, Kepala Desa Napu juga menitipkan harapan agar tenaga kesehatan bisa lebih detail, sabar dan gencar mensosialisasikan manfaat vaksin, dampak ikutan dan jua cara menyikapinya secara tepat. (ion)

Baca Juga:  Libur Lebaran, BPJS Kesehatan Waingapu Pastikan Tetap Beri Layanan Prima

Komentar