Makna Komunikasi  dalam Pengembangan Adat Istiadat ‘Pesta Pora’ di Kabupaten Sikka

oleh
oleh
Anjelina Wulandari Sitina De Sareng

Pesta pora bagi setiap kelompok masyarakat merupakan suatu hal yang sangat menyenangkan dan sangat disukai oleh semua kelompok masyarakat Maumere dari kalangan bawah / masyarakat kecil  samapai kelompok masyarakat elit. Pada kelompok masyarakat tertentu pesta pora adalah sebuah kegiatan yang sangat memiliki nilai sosial tinggi karena dapat merangkul semua orang yang mungkin punya persoalan atau masalah yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk berdamai dan saling silaturahmi diantara anggota keluarga, sahabat dan kenalan yang mungkin bertahun-tahun tidak berjumpa. Pesta pora adalah moment yang pas dan tepat untuk saling melepas kerinduan diantara keluarga, sahabat, dan kenalan. 

Acara Pesta Pora

Namun dibalik itu semua, pesta pora juga memiliki dampak sosial yang kurang menyenangkan dan bahkan membawa dampak negatif. Bagi individu atau kelompok masyarakat yang melaksanakan kegiatan pesta pora. Sering kita jumpai di tengah – tengah kehidupan masyarakat maumere dengan adanya pesta pora orang atau individu atau kelommpok masyarakat harus berutang untuk mempersiapkan segala sesuatu dalam kegiatan pesta dari makan, minum sampai busana yang akan dikenakan pada saat pesta pora. Hal ini sering kita jumpai, namun individu atau kelompok masyarakat yang menyelenggarakan tidak memperhitungkan untung atau rugi dalam melaksankan pesta tetapi disini orang lebih mementingkan gengsi dan harga diri. 

Baca Juga:  Gerakan PAUDisasi: Upaya bersama demi masa depan anak-anak Sumba

Semakin besar orang membuat pesta, semakin tinggi status sosial individu atau kelompok masyarakat maumere. Pesta pora memberi warna tersendiri dalam hidup bermasyarakat, menurut adat ketimuran khususnya maumere pesta pora adalah tolak ukur mampu dan tidaknya seseorang atau kelompok masyarakat yang bersangkutan mendapatkan penilaian dari individu atau kelompok masyarakat daerah lain. Pola dan kebiasaan untuk berpesta pora hamper dilaksanakan setiap saat baik individu yang mampu maupun tidak mampu. Kebiasaan ini terlebihi banyak orang yang karena ingin bersaing dalam membuat pesta pora. Mereka melupakan hal – hal pokok yang harus diutamakan. Akibat dari adanya pesta pora individu atau kelompok masyarakat tertentu, bisa mengorbankan anak dan keluarganya yang sedang sekolah bisa putus karena tidak mampu membayar keuangan sekolah, menyebabkan anak drop out/ putus sekolah, ada juga yang karena pesta pora secara perencana lain akhirnya dibatalkan. 

Kegiatan pesta pora juga akan menembah beban ekonomi rumah tangga. Yang semula hanya sedikit menjadi tambah banyak pengeluaran diluar dari perencanaan keluarga. Pesta pora bagi masyarakat adat ketimuran khususnya masyarakat maumere juga telah menciptakan kemiskinan, dan beban utang bagi individu atau kelompok masyarakat yang memperkembangkan kegiatan pesta pora. Pesta pora juga merupakan sebuah bentuk pemborosan waktu dan tenaga, serta pikiran, karena secara psikinis pesta pora juga akan membawah stress bahkan gila karena tidak sesuai dengan harapan dan tujuan. Pesta pora bagi masyarakat maumere merupakan sebuah bentuk kegiatan yang menciptakan kemalasan jika pesta pora diadakan secara dadakan atau tanpa adanya pleaning atau perencanaan terlebih dahulu. Kegiatan tersebut akan memupuk hutang dan bisa menimbulkan kekacauan dalam rumah tangga yang bisa memicu masalah sosial seperti kekerasan dalam rumah tangga baik anggota keluarga maupun masyarakat disekitarnya. 

Baca Juga:  Launching Penetapan & Pengundangan Peraturan Desa Mondu Tentang Pengelolaan Obyek Wisata Alam Air Terjun Tanggedu

Dewasa ini dengan kemajuan teknologi dan informasi yang semakin meningkat lewat media sosial yang diposting banyak kita jumpai dan temukan berita bahwa dengan pesta pora orang melakukan kekerasan fisik dan psikis akibat mabuk dan minuman keras dengan tidak memandang kawan atau lawan. Tradisi dan budaya masyarakat maumere kabupaten sikka berpesta pora dengan duduk melingkar menjadi hal yang sudah membudaya dilokasi atau tempat pesta. Budaya ini sudah menjadi kebiasaan yang mana lewat duduk melingkar orang akan merasa bahwa ini adalah sebuah pesta yang menyenangkan, namun bisa juga terjadi dengan duduk melingkar (Geke Gole) akan membawah persoalan, karena karakter pribadi orang yang berbeda dan secara tradisi atau budaya, bahasa dari setiap kelompok suku sangat berbeda. 

Baca Juga:  Pelaku Industri Wisata Harus Menghormati Kearifan Lokal Masyarakat Sumba

Mengucapkan kata dan kalimat dalam berkomunikasi kadang menimbulkan perasaan diri seseorang yang bisa maju dan semakin melakukan hal tersebut tindakan kekerasan fisik dan psikis, apalagi sudah meminum minuman keras. Bagi masyarakat kabupaten sikka pesta pora tanpa minuman keras adalah hal yang tidak mungkin terjadi dan itu ada kelompok masyarakat di kakbupaten sikka bukanlah sebuah pesta pora, karena bagi masyarakat kabupaten sikka pesta pora identik dengan minum mabuk. Pola dan kebiasaan demikian akan membawah dampak kemiskinan dan kemerosotan moral dalam kehidupan sosial serta dapat merusak lingkungan sosial, akan mebawah hal – hal merugikan diri sendiri dan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. 

Sebagai warga masyarakat maumere kabupaten sikka kita diajak untuk mengurangi kegiatan – kegiatan berpesta pora yang hanya membawah kerugian sosial dalam masyarakat. Mari kita tingkatkan semangat untuk bekerja keras, budaya menabung dan hidup hemat. Lebih baik kita utamakan pendidikan anak – anak kita karena pendidikan anak adalah kunci meraih kesuksesan dimasa depan dan membuka cakrawala dunia untuk dirinya dan orang lain, masyarakat menanamkan kebiasaan hidup hemat.

Penulis: Anjelina Wulandari Sitina De Sareng, Mahasiswa PPKn Universitas PGRI Kanjuruhan, Malang

Komentar