Menjadikan Tenun Ikat Sebagai Mata Pencarian Perempuan Atambua

oleh
oleh
Krisenia Evan Mali

Kain tenun ikat menjadi bagian dari komoditi unggulan kota Atambua yang kerap kali dipromosikan dalam berbagai kancah Nasional hingga Internasional. Produk kain tenun ikat mampu mengikat perhatian kalangan masyarakat karena berbagai keunikannya, seperti produk dengan tangan manusia yang masih menggunakan alat tenun tradisional yang terbuat dari kayu dan bambu serta penggunaan warna yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan.

Tak hanya itu, kain tenun yang dihasilkan dari setiap daerah di kota Atambua pun memiliki motif yang berbeda-beda. Perbedaan motif dari kain tenun ini dikarenakan setiap daerah yang mengandung narasi filosofi yang berbeda.

Produk kain tenun ikat kota Atambua bukan hanya sekedar hasil buatan kaum prempuan atambua, namun juga sebagai intelektual yang tidak kalah dengan berbagai karya seni yang tersohor di dunia, bahkan kain tenun ikat tidak kalah dengan karya-karya seniman dunia.

Perempuan Penenun

Tenun ikat Atambua bukan baru naik kelas, namun sudah di atas sejak dulu karena sudah masuk di berbagai acara. Namun ada pula tantangan yang di hadapi di kota Atambua itu sendiri, yaitu belum banyak masyarakat yang melihat keunggulan ini sebagai potensi besar untuk memberika keuntugan ekonomi.

Baca Juga:  Surat Terbuka Untuk Bapak Gubernur NTT dalam kaitan kian maraknya Pencurian & Perampokan Ternak di Sumba

Regenerasi penenunan tenun ikat di  kabupaten Belu kota Atambua, NTT juga menjadi pekerjaan rumah tangga mengingat jumlah penenun yang kian berkurang serta masih didominasi oleh perempuan dewasa atau ibu-ibu rumah tangga.

Yang kurang adalah masih banyaknya orang-orang di luaran sana yang tidak cinta karya tenun ikat yang luar biasa ini. 

Usaha Potensial

Menilai usaha tenun ikat yang memiliki potensi besar memberikan keuntungan karena sejalan dengan perkembangan sektor parawisata di Kabupaten Belu kota Atambua yang saat ini tengah bergerak maju. Meskipun produk kain tenun tidak terjual habis setiap harinya, namun keuntungan dalam sekali penjuakan bisa mencukupi target pendapatan selama beberapa waktu, karena sekali pembelian kain tenun ikat ini bisa mencapai atau bernilai jutaan rupiah, sehingga tetap ada keuntungn usaha, termasuk untuk para penenun.

Baca Juga:  DISKURSUS KESEHATAN MASYARAKAT(Catatan Kritis Kebijakan Paradigma Sehat Menyambut KONAS IAKMI XIII di Makassar)

Peluang bagi produk tenun ikat bisa terserap lebih tinggi di pasar melalui berbagai pameran yang diselenggarakan pemerintah daerah hingga pemerintah pusat dalam ajang bersekolah lokal hingga internasional. Usaha kain tenun juga dapat memberikan keuntungan secara berkelanjutan bagi masyarakat, terutama perempuan.

Aktivitas produksi kain tenun ikat tergantung pada musim tertentu, seperti di bidang pertanian, perikanan, yang merupakan mata pencarian masyarakat Atambua pada umumnya. Menenun itu adalah pekerjaan yang tanpa mengenal musim, bisa diberikan setiap waktu, berkelanjutan sehingga dapat terus memberikan keuntungan ekonomi.

Tenun Ikat saat ini bahkan bisa meraup keuntungan hinggah puluhan juta rupiah dalan sebulan. Namun saat ini belum banyak penenun yang memproduksi tenun ikat untuk dipasarkan secara konsisten dan berkelanjutan. Sebagian besar penenun memproduksi kain tenun ikat manakala ada pemesan dari pembeli.

Baca Juga:  Kewirausahaan Sosial yang Memberi Dampak untuk Kemajuan Negara

Menenun tenun ikat belum dipandang sebagian besar orang sebagai mata pencarian, melainkan sekedar pekerjaan tidak tetap atau serabutan. Kondisi itu membuat pemerintah Kabupaten Belu Kota Atambua untuk terus mendorong perempuan menenun agar mengubah cara pandang mereka untuk menjadikan tenun sebagai mata pencarian utama.

Pasar Terbuka

Penenunan tenun ikat Di kota Atambua terus memperluas jaringan kemitraan untuk memperluas pangsa pasar bagi produk tenun ikat yang dimiliki. Selain itu pemerintahan kota Atambua juga memberikan dukungan kepada masyarakat dengan menghadirkan perwakilan Bank indonesia Atambua, melalui kegiatan pameran tenun ikat.

Penulis: Krisenia Evan Mali, Mahasiswa Universitas PGRI Kanjuruhan Malang, Fakultas Ilmu Pendidikan, Prodi PPKN

Komentar