Pagi itu, tanggal 24 Februari 2026, sinar matahari mulai menghangatkan lapangan utama SMA Negeri 1 Rindi Umalulu yang terletak di Kelurahan Lumbukore, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur. Angin sepoi-sepoi menyapu rerumputan kering di halaman bata merah yang luas, mengiringi suasana sunyi dan penuh rasa hormat ketika sekelompok wanita berkumpul di tengah lapangan.
Mereka tampil bersahaja namun magis. Rambut mereka tertata rapi dengan ikatan kain merah tua yang disebut hinggi kombu, sementara tubuh mereka terbalut kiara, yakni kain tenun bergambar khas Sumba yang sarat akan simbol filosofis. Di pergelangan tangan mereka mengayun rumbai dari serat kapas alami, dan di pergelangan kaki terpasang lonceng-lonceng kecil bernama giring-giring yang menggemakan suara di setiap langkah. Inilah momen persiapan pertunjukan tari Kabokang, sebuah tarian tradisional yang telah bernapas selama berabad-abad dan menjadi mahkota budaya masyarakat Sumba Timur.
Hari itu, tarian Kabokang digelar untuk menyambut delegasi pemerintah pusat yang datang meninjau perkembangan penerima beasiswa pendidikan. Namun, bagi masyarakat Kelurahan Lumbukore, momen ini jauh melampaui sekadar acara seremonial penyambutan tamu. Ini adalah bentuk penghormatan sakral kepada leluhur dan pembuktian bahwa warisan budaya mereka tetap hidup. Seperti yang diungkapkan dengan penuh haru oleh Pak Eben, seorang pelatih tari yang telah bertahun-tahun mengabdi,
“Ibu-ibu kita sudah menari Kabokang sejak sebelum kita lahir. Ini bukan hanya tarian, tapi jalan kita untuk berkomunikasi dengan nenek moyang dan menjaga keharmonisan dengan alam,”.
Apresiasi terhadap seni budaya, khususnya tari Kabokang, merupakan medium yang sangat kuat untuk menumbuhkan karakter bangsa. Di Sumba Timur, tarian ini berakar pada kepercayaan Marapu, yang mengajarkan bahwa manusia, alam semesta, dan dunia roh adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Setiap tindakan di dalamnya, termasuk tarian, memiliki makna mendalam untuk menjaga keseimbangan alam. Karakter empati dan kebersamaan tertuang dalam sejarah kelahirannya. Menurut cerita lisan lintas generasi, tari Kabokang awalnya dibawakan oleh para dewata yang turun ke bumi untuk menolong masyarakat Sumba dari himpitan kekeringan dan konflik antarsuku.
Alkisah, di masa lalu saat wilayah Wewewa dilanda kemarau panjang yang membuat panen gagal dan tanah tandus, masyarakat memohon pertolongan lewat upacara pasola. Setelahnya, seorang pemuda bernama Kambu bermimpi melihat wanita cantik berkain tenun menari anggun di tepi sungai yang kering. Saat ia menari, air kembali memancar dari bawah tanah. Gerakan ini kemudian diajarkan oleh Kambu dan dinamai Kabokang, yang bermakna “sumber kehidupan yang kembali mengalir”.
Ada pula versi sejarah yang mencatat bahwa tarian anggun ini diciptakan sebagai penghormatan dan penyambutan bagi raja atau bangsawan yang berkunjung. Keanggunannya merepresentasikan kehormatan martabat kerajaan, disempurnakan dengan suara giring-giring yang meriah.
Karakter disiplin dan religiusitas juga ditanamkan secara ketat. Secara tradisional, tari ini dibawakan oleh 4 hingga 6 penari wanita berusia 15 hingga 45 tahun. Pemilihan angkanya sarat filosofi: angka 4 melambangkan penjuru mata angin, dan angka 6 melambangkan unsur Marapu (bumi, air, api, udara, tanah, dan roh). Sebelum pentas, penari wajib menjalani mabata, yakni prosesi pembersihan diri melalui mandi air suci dan doa bersama pemangku adat. Tanpanya, pertunjukan dianggap tidak sah dan diyakini membawa kesialan.
Seni benar-benar memperkuat karakter melalui koreografi Kabokang. Tidak seperti tarian modern yang bebas, Kabokang memiliki aturan gerakan yang sangat teratur karena dianggap sebagai bentuk komunikasi dengan dunia roh. Setiap gerak adalah cerminan nilai kehidupan.
Berikut adalah makna pembentuk karakter dalam gerakan kaki tari Kabokang:
Hinggi Watu: Langkah pendek menapak batu ini melambangkan perjuangan dan ketekunan dalam menghadapi tantangan hidup.
Lombo: Langkah melingkar bak ombak laut ini mengajarkan nilai kesetiaan dan kesatuan dalam komunitas.
Kambu: Langkah tegas dengan tendangan kaki terkontrol ini menjadi simbol keberanian dan kekuatan melindungi tanah air.
Waiha: Langkah lembut seperti aliran sungai ini menanamkan kebijaksanaan dan kesabaran dalam menjalani hidup.
Selain gerak kaki, gerak tangan juga turut menambah keindahan gerakan tari, kain panjang berwarna-warni dengan motif alam bernama Kakatua juga digunakan dalam gerakan tangan yang tak kalah sarat makna :
Buru: Gerakan bak burung mengepak sayap ini melambangkan harapan untuk mencapai tujuan hidup. Laut Lonceng: Putaran kain melingkar ini berarti sikap terbuka dan menerima segala takdir yang datang. Watu Tana: Kain yang dijulurkan ke atas ini mengajarkan kekuatan dan penghormatan pada alam
Api Sura: Goyangan kain yang cepat ini menyimbolkan gairah dan semangat hidup yang harus terus dijaga.
Tubuh penari pun bergerak mengalir dengan harmoni. Pinggul dan bahu yang lembut merepresentasikan kasih sayang, punggung yang tegak melambangkan kehormatan, dan gelengan kepala mengatur rasa hormat serta kegembiraan. Secara struktur, pementasan 30-45 menit ini dibagi rapi menjadi tiga babak pembentuk cerita: Mabuka Kabokang (lambang kedatangan roh), Mata Kabokang (dinamika perjuangan kehidupan sehari-hari), dan Makatua Kabokang (lambang perpisahan dan harapan). Di akhir pertunjukan, dipanjatkan doa dan kadang disertai penyembelihan hewan kurban sebagai wujud syukur.
Karakter pantang menyerah masyarakat Sumba terbukti dari sejarah tarian ini. Catatan Raden Ngabehi Wiryokusumo pada tahun 1689 membuktikan tarian ini sudah eksis sejak abad ke-17. Pada masa kolonial tahun 1927, pejabat Belanda Van der Meer mencoba melarang Kabokang karena dianggap kuno, namun masyarakat melawan dan melestarikannya secara sembunyi-sembunyi. Tarian ini kembali bersinar pasca kemerdekaan, tampil di Festival Budaya Nasional Jakarta pada 1958, dan diakui sebagai lambang budaya daerah pada 1975. Sayangnya, pada era Orde Baru, tarian ini sempat dikomersialisasi demi menarik audiens luar, yang mengubah kostum dan gerakan aslinya.
Dr. Yohanis Watu, ahli budaya Universitas Nusa Cendana yang meneliti Kabokang selama lebih dari 20 tahun, mengutarakan keprihatinannya.
“Saat itu, banyak orang yang hanya melihat Kabokang sebagai tarian untuk hiburan semata, bukan sebagai bagian dari kepercayaan dan identitas kita,” tegasnya.
Padahal, beliau mengingatkan, setiap gerakan dan warna terkait erat dengan hubungan manusia, alam, dan nenek moyang. Harmoni karakter tersebut makin lengkap dengan kehadiran alat musik tradisional. Pukulan dalam ganggang (gong logam), ritme tegas Kendang Sumba, tiupan merdu bambu Benu, hingga petikan sasando atau kecapi mengiringi tarian ini. Suara gemerincing giring-giring di kaki penari menyatukan seluruh elemen menjadi harmoni yang utuh.
Di era globalisasi saat ini, tari Kabokang adalah bukti bahwa apresiasi seni mampu menjadi perisai karakter bangsa. Melalui setiap ayunan langkah Hinggi Watu dan kepakan kain Buru Buru, generasi muda Sumba Timur tidak sekadar menari. Mereka sedang diajarkan tentang kesabaran, penghormatan, ketangguhan, dan keberanian, sebuah sumber kehidupan yang akan terus mengalir menjaga nyala budaya bangsa.
(Penulis: Marselyna Riwu, Murid kelas X pada SMA Negeri 1 Rindi Umalulu. Juara IV Lomba Jurnalistik Tingkat SMA/SMK se-Sumba Timur dalam kegiatan FLS3SN)







