Sebuah Catatan Lepas: Sumba Dalam Pesona Kuda Sandalwood Hingga Kunjungan ‘Si Kuda Jingkrak’

oleh -1.045 views
Parade Kuda Sandalwood

Waingapu.Com – Sudah dua tahun berturut- turut Pulau Sumba umumnya dan Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) NTT, menggelar festival ataupun parade kuda Sandalwood. Kemasan yang sama walau labelnya berbeda, jika ditahun 2018 silam berlabel Festival Parade 1001 kuda, ditahun 2019 ini berganti label dengan Festival Sandalwood.

Kemasan boleh beda, namun apa yang disuguhkan punya sejumlah maksud serupa, diantaranya mempertegas kekhasan Pulau Sumba sebagai asal dan wilayah yang identik dengan jenis kuda Sandalwood ataupun Sandlewood. Dua penyebutan atau dua nama yang mana hingga kini masih diperdebatkan sejumlah pihak, baik itu di dunia nyata juga di jagad maya.

Parade Kuda Sandalwood

Sedikit mengingat pesona Sandalwood yang ditampilkan dalam festival Kuda Sandalwood di hamparan padang sabana dan pesisir Pantai Puru Kambera, Jumat (12/07) lalu, Bupati Sumtim, Gidion Mbiliyora, secara jujur dan ‘gentle’ mengakui pelaksanaan kali ini penuh dengan keterbatasan. Pengakuan Bupati Sumtim dua ‘periode plus’ itu seiring dengan opini sejumlah pihak yang menilai pelaksanaan festival dimaksud memang terkesan apa adanya, dan bahkan ada yang menilai ‘ada apa-apanya’. Penilaian yang tidak salah tentunya, walau tidak sepenuhnya juga bisa dibenarkan. Namun idealnya harus dilihat sebagai bentuk kepedulian ataupun respect terhadap pelaksanaan yang sekalipun diakui penuh keterbatasan namun respon untuk itu tiada terbatas hingga kini.

Parade Kuda Sandalwood

Deru kaki-kaki kuda yang menghempas rerumputan dan debu khas sabana, dibarengi dengan hembusan angin khas sabana yang menelisik menyusup pinus dan mangrove pesisir pantai tetap bisa dirasakan. Realita yang bak menyambut paparan lugas dan tegas dari Viktor Bungtilu Laiskodat, sosok Gubernur NTT yang dalam festival kali ini ‘berani pasang badan’ sebagai figur yang pantas memikul beban untuk disalahkan.

Parade Kuda Sandalwood

Pengakuan yang langsung dilanjutkan dengan janji dan juga harapan pelaksanaan Festival Sandalwood dan Tenun Ikat Sumba ditahun berikutnya akan jauh lebih meriah. Festival dan expo tenun ikat serta kuda Sandalwood ini memang sepaket sejak pelaksanaan pertama kali. “Ini yang salah Gubernurnya bukan Bupatinya yang salah. Ini kita akan siapkan yang benar, tahun depan dibikin hebat betul,” tandas Viktor dari atas panggung di pesisir pantai Puru Kambera kala itu.

Parade Kuda Sandalwood

Tak hanya sampai disitu, Viktor juga memaparkan bagaimana caranya untuk mencapai ‘level hebat’ itu yakni dengan 5A (Amenitas, Aksebilitas, Atraksi baik budaya dan alam, Akomodasi, dan Awareness dimana orang yang datang dan memberikan penjelasan benar-benar paham tentang budaya dan tradisi yang tersaji atau digambarkan). “Harus ada dan jelas narasinya, dimana kuda-kuda harus lari dari punggung gunung, narasinya harus pas dan betul apalagi saya lihat alamnya sudah sangat mendukung. Dari tempat saya duduk ini saya lihat, waah hebat betul,” tandas Viktor sembari menambhakan sinergi antara Dinas Priwisata dan Budaya Pemprop. NTT dengan empat Dinas yang sama pada empat Kabupaten akan dibenahi dan ditingkatkan dimasa datang.

“Kita harapkan sedikitnya nanti ada 5000 ekor kuda dan penunggangnya dari empat kabupaten nanti ada di sini, saya rasa ini tempat terbaik. Dalam imajinasi saya di tempat ini bisa digelar festival sandalwood yang berpadu dengan fashion show dan lagu-lagu daerah dari empat Kabupaten. Juga 1000 hingga 2000 ibu penenun hadir dan ambil bagian,” urai Viktor lebih lanjut.

Kurang dari dua pekan pasca ‘dwi festival’ di tanah Humba itu, layaknya informasi tentang festival yang lebih mengedepankan kemampuan promosi lewat media sosial (minim promo di media massa, juga baliho dan spanduk yang baru terpasang sekira dua atau sehari sebelum pelaksanaan festival, hingga banyak yang justru baru bisa datang dan bertanya-tanya pasca festival terlaksana,- red), promo dengan format yang tidak jauh berbeda pula mengabarkan planing, dan kemudian terealisasi kehadiran sebuah lambang kemapanan, exlusive, kemewahan, glamour, kekayaan, kecepatan dan kekuatan (silakan merangkai gambaran atau imaji lainnya…) dari satu unit Ferrari Portofino, di bumi Marapu.

Mobil sport nan mewah serta bertenaga itu tiba Selasa (23/07) malam, dilanjutkan dengan foto session di sejumlah lokasi, di pulau Sumba hingga tanggal Jumat (26/07). Adalah hamparan perbukitan dan savannah atau sabana Hiliwuku di desa Katikuloku tepatnya di desa persiapan Hawurut, Kecamatan Matawai Lapawu, yang menjadi lokasi pertama foto dan video session. Sejenak masyarakat dibawa dan diajak lebih dekat dengan mobil yang mungkin hanya akan terlihat dilayar televisi atapun video streaming juga photo-photo promosi. Bahkan juga turut membuat antusiesme para figur berlabel Aparatur Sipil Negara (ASN), dalam kesibukan dan aktifitasnya melaksanakan Tupoksinya.

Ferrari Portofino

Mobil berlogo atau bermascotkan ‘Kuda Jingkrak’ itu bahkan hanya sejauh jengkal dari sejumlah warga. Foto dan cerita yang didapatkan penulis dari sejumlah pegiat pariwisata dan juga sosok Yudi Umbu Rawambaku, sosok ASN yang diakui dan kenal dedikasi vitalitasnya oleh sejumlah pihak kala sosok ini mengemban tugas pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumtim menunjukan, kebanggaan warga juga kekontrasan ‘sang kuda jingkrak’ menyusuri jalanan sekitar Hiliwuku.

Moment yang juga dishare Yudi dalam linimasa media sosialnya dengan rangkaian kata dan kalimat yang dipungkasi dengan “Jangan bakar padang lagi” karena itu kebiasaan buruk.

Yaaa, jika difestival sandalwood lalu, kuda-kuda perkasa Sumba menapaki sabana dengan membelah deru angin padang dan perbukitan serta pesisir, Sang Kuda Jingkrak Portofino, melintasi sabana kering perpaduan kuning keemasan dan hitam pekat berjelaga dan berdebu.

Selamat bermimpi untuk festival sandalwood lebih baik dan megah dimasa datang, dan jangan pula menolak mimpi miliki Ferrari Portofino, ataupun jenis lainnya yang mungkin hanya berjarak ‘sekedipan mata’ dari benak ataupun angan. Tetaplah tidur dengan mengawalinya dengan doa, bukan mustahil jok empuk dan tenaga sang ‘kuda jingkrak’ bisa dirasakan, menyusur jalan hotmix membelah padang sabana, menghempas rerumputan dan bunga padang, walaupun kemudian tersentak dan terjaga itulah sebatas bunga tidur. (Dion Umbu Ana Lodu)

Komentar