Tradisi Parina, Kegembiraan Panen Padi yang Kian Jarang Ditemui di Sumba Timur

oleh
oleh

Waingapu.Com – Kabupaten Sumba Timur, NTT kaya akan tradisi dan adat budayanya. Walau demikian tak bisa dipungkiri sebagian diantaranya sudah kian jarang ditemui dan dipraktekkan warga. Hal itu dikarenakan geliat jaman modern dan globalisasi. Salah satu tradisi unik itu adalah Parina. 

Parina sendiri merupakan sebuah kegiatan suka cita atau kegembiraan terkait dnegan melimpahnya hasil panen padi. Secara sepesifik Parina adalah upaya warga melepaskan bulir padi daari tangkainya namun sepenuhnya menggunakan tenaga manusia dengan cara diinjak-injak dengan hentakan kaki mengikuti nyanyian dan irama petikan Jungga Humba ataupun Jungga Hau.

Parina lazimnya didahului oleh Ritual Hamayang (Doa pada Pencipta dan Leluhur) . Hal itu dimaksudkan agar proses Parian dimudahkan dan sekaligus permohonan pada Sang Khalik agar hasil panen ked depannya aman dari hama penyakit serta hasil yang baik nan melimpah.

Baca Juga:  Menikmati Pesona Walakiri Dengan Pop Ghum, Watar Cup Cake & Manggulu

Kaum pria adalah sosok yang dipercaya untuk menari dan menginjak padi dengan hentakan kaki agar lepas dari tangkainya. Sementara kaum pertempuan bisanya mengiringnya dengan nyanyian ataupiun kakalaku (pekikan khas Sumba Timur). Selain itu petikan Jungga Humba (alat musik petik 2 senar) dan Jungga Hau  (alat musik petik 4 senar) juga dibarengi dengan Kayaka (pekikan khas Sumba Timur).

Yudi Umbu Rawambaku, pemerhati dan pegiat Wisata Sumba Timur kepada wartawan beberapa hari lalu membagikan ceria, foto dan video saat dirinya menjadi saksi Kegiatan Parina di desa Wairara, kecamatana Mahu sepekan silam.  Dirnya juga menerangkan filosofi 2 senar pada Jungga Humba.

“Dua senar pada Jungga Humba secara filosofis sejak dulu kedua senar itu merupakan pasangan yang biasa disebut Umbu dan Rambu. Umbu sendiri merupakan sapaan khas bagi lelaki dan Rambu adalah untuk perempuan Sumba Timur,” terangnya.

Baca Juga:  Tim Inspektorat Berharap PT. MSM Bisa Berdampak Positif Untuk Seluruh NTT

 “Ini Parina di Desa Wai Rara, Kecamatan Mahu. Parina diawali dengan ritual Hamayang (doa pada sang Khalik) pada Sang Pencipta melalui para leluhur untuk memberikan restu untuk kelancaran usaha, melindungi lahan dan memberikan hasil pertanian yang melimpah bagi warga,” urainya lebih jauh. 

Pihaknya berharap agar kegiatan seperti itu lebih cepat terdeteksi pelaksanaan sedari dini. Hal itu dimaksudkan agar bisa ‘dijual’ dan menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara (Wisman) ampun Wisatawan Nusantara (Wisnu) karena kegiatan ini langka dan unik. (ion)

Komentar