Covid-19 Itu ‘Buta Tuli’ Tak Pandang Bulu, Siapapun Bisa Kena & Bisa Menghindarinya

oleh -131 views
Maruli Simanjuntak

Waingapu. Com – Sebaran Virus Corona alias Covid-19 hingga kini masih menjadi pandemi global dan masih mencemaskan. Begitupun juga halnya di Kabupaten Sumba Timur, NTT. Sebarannya masih perlu untuk diwaspadai oleh siapapun. Pasalnya virus yang kini bahkan telah bermutasi dan muncul jenis atau varian baru itu seperti ‘buta tuli’ alias tidak pandang bulu, siapapun punya potensi untuk terpapar. Rakyat jelata hingga kaum borjuis bisa terpapar, berpendidikan seadanya ataupun kalangan intelektual, pegawai kecil dan pejabat, Kopral ataupun Jenderal sekalipun bisa terinfeksi virus itu.

Walaupun semua bisa terpapar apapun status juga profesinya, Covid-19 juga tetap bisa dihindari atau ditangkal penularannya oleh siapapun. Terkait dengan realita itu, Panglima Kodam (Pangdam) IX Udayana, Mayjen TNI Maruli Simanjuntak juga memberikan penegasan tentang bahaya Covid-19 juga cara paling mujarab untuk menghindari paparannya.

“Sampai dengan detik ini, untuk menghindari penyakit ini hanya protokol kesehatan. Mau dikatakan ramuan ajaibkah, mau dikatakan vitaminkah sampai bahkan vaksinasi pun tidak bisa menjamin. Mungkin vaksinasi menurut saya, 30 hingga 50 persenlah, masih jauh, jadi kemungkinan kena itu masih ada,” paparnya saat memberikan arahan kepada para prajurit dan keluarga besar Makodim 1601, Selasa (29/06) siang lalu.

Baca Juga:  Tidak Lama Lagi, Laboratorium PCR RSUD URM Akan Dapatkan Ijin Operasional

Dalam kesempatan itu, Jenderal berbintang dua itu juga mengakui dirinyapun tak luput dari paparan virus yang awalnya merebak di Wuhan – Tiongkok itu. Kendati demikian, dirinya menyakinkan bahwa yang terkena Covid-19 tetap bisa sembuh, dan penyakit itu bukanlah atau jangan dijadikan aib di mata masyarakat.

“Karena saya juga pernah mengalaminya juga. Dua puluh hari saya diam di dalam ruangan, memang tidak enak juga sih. Ini penyakit bukan penyakit memalukan yaa. Jadi kalau kamu ada apa-apa dengan penyakit ini, ada gejala-gejala yakinkan kamu berani untuk dicheck. Kalau sesudah itu terkonfirmasi positif harus diisolasi karena itu mudah sekali ditularkan. Jadi jangan merasa aneh yang penting kita tahu langkah-langkahnya untuk tidak menularkan dan juga tentunya untuk menghindari. Sekali lagi yang terpenting adalah tertib dengan protokol kesehatan,” urainya Maruli.

Masih dilokasi yang sama, Maruli yang baru pertama kali melakukan kujungan kerja ke Pulau Sumba itu juga memberikan ‘resep mujarab’ untuk meminalisir potensi terpapar Covid-19. “Yang juga tak kalah penting untuk meminalisir terpapar Covid-19 adalah dengan meningkatkan imunitas tubuh, ini cukup mujarab apalagi jika didukung pola hidup sehat plus menghindari stress dengan berpikir positif,” pungkasnya.

Baca Juga:  Saat Berlabuh di Waingapu, KM.Egon Turunkan 124 Penumpang dari Lembar
Domu Warandoy

Senada dengan Maruli yang mengaku pernah ‘diakrapi’ Covid-19, Domu Warandoy, Sekretaris Daerah (Sekda) Sumba Timur juga mengamini potensi sebarannya yang tak pandang bulu itu. Ditemui sekira satu pekan pasca dinyatakan telah bersih dari virus pasca melakukan isolasi mandiri (Isoman) di Rumah Jabatannya.

“Saya awalnya batuk-batuk kering dan kepala sakit. Lalu saya ke RSUD untuk rapid test antigen dan hasilnya positif. Setelah itu saya TCM juga positif. Lalu saya ditanya apakah mau Isoman atau mau dirawat. Saya merasa bisa dan mampu untuk Isoman yaa saya pilih itu. Saya tiba dirumah dan tertib jalankan arahan dimanasaya tempati kamar sendiri, ibu dikamar lain, tempat makan saya juga lain dan jalur untuk mengambilnya juga lain dengan jalur keluarga,” tutur Warandoy.

Mantan Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Sumba Timur itu lebih jauh menuturkan, selama jalani Isoman dirinya mengenakan masker, menjaga jarak, rajin mencuci tangan dan bahkan pakai sarung tangan, itu juga dilakukan oleh seluruh keluarga di rumahnya.

Baca Juga:  Dari Dunia Nyata Hingga Dunia Maya: Polemik Retribusi Parkir RSUD Umbu Rara Meha

“Saya istirahat lebih cepat dari biasanya, konsumsi vitamin dan juga obat yang diberikan. Juga olah raga. Dan empat hari kemudian saya sudah tidak rasa apa-apa lagi. Setelah 14 hari saya periksa masih positif, diperpanjang lagi seminggu, saya tetap ikut dan tertib. Setelah itu baru saya SWAB PCR hasilnya negatif. Jadi semuanya tergantung pada kedisiplinan kita melaksanakan protokol kesehatan. Kita bisa terhindar dari paparannya dan juga bisa terhindar dari orang lain yang telah terpapar,” pungkasnya sembari menambahkan yang paling beresiko jika terpapar covid adalah mereka yang punya penyakit bawaan. Karena itu kata dia, satu-satunya cara disaat ini yang paling ampuh adalah penerapan protokol kesehatan.

 Merujuk data paparan Covid-19 yang dipublish Posko Percepatan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Sumba Timur, hingga Rabu (30/06) pukul 19 : 00 WITA, terjadi kasus positif sebanyak 1.710. Dari jumlah itu, sebanyak 1.474 telah sembuh dan 185 masih dirawat. Sejak menjadi daerah terpapar, sudah terjadi 51 kasus kematian yang terkonfirmasi positif Covid-19. (ion)

Komentar