Adakah Konspirasi Bisnis Dibalik Covid-19?

oleh
Andreas Didi Kelen

Wabah adalah faktor kunci mundurnya Zaman Purbakala dan lahirnya abad Pertengahan. Wabah telah menjadi salah satu kejadian penting yang mendorong terjadinya perubahan zaman, yang dalamnya terjadi banyak perubahan sosial yang mengiringi catatan hidup umat manusia. Secara historis wabah atau pandemi dan sejenisnya membunuh ribuan bahkan ratusan ribu manusia, tidak hanya mengubah peta sejarah sosial manusia tetapi juga mengubah struktur sosial, politik, budaya, dan ekonomi. Kasus pandemi Covid -19 merupakan salah satu ancaman terbesar bagi ras manusia di abad modern yang mana virus-virus ini semacam senjata yang mampu membunuh jutaan manusia.

Corona virus sejak muncul pertamakali di Kota Wuhan, Tiongkok dan merebak semakin luas ke seluruh dunia mendorong World Health Organization (WHO) untuk menetapkan virus tersebut menjadi pandemi dunia. Indonesia yang awalnya terbilang cukup longgar menyikapi penyebaran virus ini, pada akhirnya tepat pada 2 Maret 2020 diumumkan secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia bahwa terdapat Warga Negara Indonesia (WNI) yang positif terjangkit virus COVID-19 ini. Ditemukannya dua korban positif corona pertama di Depok, Jawa Barat menjadikan kawasan Jabodetabek sebagai episentrum wilayah penyebaran pertama pandemi virus COVID-19 di Indonesia.

Baca Juga:  SWAB Terkonfirmasi Negatif, Pasien 01 Positif Corona di Sumba Timur Dipulangkan

Menurut Prof. Chib Tai Fang dari National Taiwan University, mengatakan bahwa penambahan asam amino pada virus corona sangat tidak wajar, biasanya mutasi virus tidak seradikal itu. Ia merasa aneh bila virus corona mempunyai 4 asam amino. Menurutnya penambahan asam amino pada virus tidak terlepas dari campur tangan pihak laboratorium. Lain lagi dari  Prof. Dr. Francis Boyle, menyatakan bahwa COVID-19 adalah senjata perang biologi yang bersifat menyerang. Kemudian juga dari US National Library of Medicine dari Departemen Kesehatan Amerika Serikat,  Mereka sudah mengungkapkan indikasi penggunaan wabah flu sebagai senjata biologi sejak 2003.

Saya melihat landasan dasar dari Teori konspirasi yang dapat diartikan sebagai suatu teori yang berusaha untuk dapat menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu maupun serangkaian peristiwa merupakan suatu hal yang bersifat rahasia dan sering kali memperdaya seseorang, direncanakan secara diam-diam oleh pihak tertentu seperti sekelompok orang maupun organisasi yang memiliki kuasa tinggi serta sangat berpengaruh. Umumnya, peristiwa yang dikaitkan dengan konspirasi merupakan peristiwa politik, sejarah maupun sosial.

Baca Juga:  Waspada Corona, Penyemprotan Disinfektan dari Lapas Hingga Paris Matawai

Kita bisa melihat angka kematian di negara ini akibat virus tersebut yang melonjak begitu tinggi.  Perspektif saya terkait problem ini mungkin benar adanya bisnis dibalik Covid-19. Kasus kematian serta hilangnya Covid-19 yg tiba-tiba seperti sekarang menjadi salah satu hal yg mendukung statement masyarakat terkait permainan dari adanya wabah ini.

Saya bisa mengatakan juga zaman ini adalah zaman ‘sinting’ dimana rakyat terbunuh bukan lagi dengan senjata namun cukup dengan aturan. Belakangan vaksin datang sebagai juru selamat namun Vaksin buatan anak bangsa di sulitkan perijinan tetapi vaksin buatan asing di impor dan dipaksa wajibkan. Warga Cina bergelombang masuk seolah disembunyikan tengah malam lewat bandara. Warga pribumi di intimidasi dan dibatasi keluar mencari nafka yang lapar di kurung dalam kandang.

Baca Juga:  Gerai Vaksin PRESISI POLRI Sudah Vaksinasi Lebih dari 85 Ribu Warga Sumba Timur

Ada apa???

Mungkinkah PPKM merupakan strategi mengurungi rakyat agar taktik kedatangan Cina tak terbaca. Mitos Corona belum habis diperdebatkan dan juga Corona di konsumsi sebagai proyek pertempuran. Rakyat dibuat bingung dengan simpang siur status merah, orange dan hijau yang mewarnai penanganan.

Petinggi sibuk divaksin dan rakyat pun menyusul kemudian. Lantas siapa yang menjamin cairan vaksin ke pejabat sama dengan yang akan di suntik ke rakyat miskin? Jenazah tak berdaya di tuduh mati karena covid, diperebutkan keluar keatas dasar cinta dan amarah. Petugas terburu-buru mengkremasi tanpa syariat hingga di tanam atas nama bisnis dan upah.

Rakyat Indonesia telah mencoreti selembar kertas bahwa negeri ini bukan milik siapa pun.!!!

Penulis: Andreas Didi Kelen, Mahasiswa PPKn-Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Komentar