Untuk mengejar target tersebut, perusahaan mengoperasikan sekitar 300 unit alat berat yang bekerja hampir di seluruh area pembangunan. Sebanyak 140 unit merupakan ekskavator, sedangkan sisanya dump truck besar yang mendukung pekerjaan pemindahan material.
Menurut Abdul Kadir, aktivitas konstruksi juga didukung sekitar 400 tenaga kerja, termasuk operator alat berat yang setiap hari bekerja membentuk kawasan budidaya udang modern di atas lahan lebih dari dua ribu hektare.
Pantauan di lokasi Klaster 4 memperlihatkan pekerjaan berlangsung serentak di berbagai sektor. Ekskavator menggali jalur perpipaan menuju sistem instalasi pengolahan air limbah, sementara alat lainnya membentuk tanggul serta petak-petak kolam budidaya.
Sebanyak 128 kolam di Klaster 4 mulai terlihat jelas. Masing-masing kolam memiliki ukuran 50 meter x 50 meter, yang nantinya menjadi bagian dari sistem budidaya udang modern berbasis kawasan.
Keberhasilan mengoperasikan dua klaster pada 2027 dinilai menjadi tonggak penting sebelum seluruh kawasan selesai dibangun pada 2028. Dengan demikian, produksi udang dapat dimulai lebih awal sembari penyelesaian klaster lainnya tetap berjalan.
Proyek bernilai Rp7,2 triliun tersebut merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional di sektor kelautan dan perikanan. Kawasan ini dirancang sebagai ekosistem budidaya udang modern yang dilengkapi berbagai infrastruktur penunjang, mulai dari sistem pengolahan limbah, jaringan perpipaan, hingga fasilitas operasional yang terintegrasi.
Apabila target operasional dua klaster berhasil dicapai pada 2027, proyek ini diyakini akan menjadi tonggak baru pengembangan industri budidaya udang nasional sekaligus memperkuat posisi Sumba Timur sebagai salah satu pusat produksi udang modern di Indonesia(ped/ion)







