Episode 2 Serial Perang Dunia II: REVOLUSI TANK JERMAN DAN PEMBUKA PD II

oleh -59 views
Lutfi Manu

Dendam Jerman atas kekalahannya pada Perang Dunia I dan perlakuan embargo oleh negara – negara eropa melalui perjanjian Versailles, dengan maksud memperkerdilkan Jerman agar tidak membahayakan tanah Eropa. Perjanjian tersebut melarang Jerman memiliki pasukan melebihi 100.000 orang dan melarang Jerman memiliki kendaraan Tank.

Sejarah Tank itu sendiri sebenarnya adalah ciptaan Inggris, tapi tidak digunakan secara masal melainkan hanya kecil – kecilan saja. Seorang opsir Jerman, Mayor Heinz Guderian memiliki keyakinan bahwa Tank dan kendaraan lapis baja lah yang akan menentukan kemenanagan perang dimasa depan.

Keyakinan serupa juga diyakini oleh kalangan opsir Inggris, seperti Kapten Liddell Hart dan Jenderal Fuller. Juga jenderal Charles de Gaulle menagajukan agar supaya Prancis membentuk divisi – divisi berlapis baja. Namun semuanya mendapatkan penolakan dari pucuk pimpinan negara masing – masing.

Dari kalangan Jerman sendiri banyak yang menentang teori – teori Mayor Guderian Henz, salah satunya adalah Staf umum AD Jerman – Jenderal Ludwig Beck, ia beranggapan divisi lapis baja terlalu bergerak cepat. Dan Ludwig bukan satu – satunya yang menentang teori panser Guderian.

Ketidak setujuan para petinggi Jerman ternyata tidak sepaham dengan Hitler. Hitler selalu berfikir jauh kedepan, gairahnya yang selalu menginginkan adanya senjata baru membuat hatinya terpikat akan teori Guderian, Hitler kemudian mengangkat Guderian menjadi Kolonel.

Divisi panser mulai dibentuk oleh Hitler, tantara diperbanyak, Luft Waffe – angkatan udara mulai dibentuk. Di tahun 1935 itulah Hitler memperkuat militernya dan dengan sengaja melanggar perjanjian Versailles.

Dalam masa bulan Maret 1938 Jerman mulai memasuki wilayah Austri. Bulan September 1938 Inggris – Prancis mengalami kekalahan di Munchen, dan bulan oktober jerman menduduki Sudetenland, juga sebagian wilayah Cekoslovakia. Dan pada bulan maret 1939 Hitler menduduki seluruh wilayah Cekoslovakia. Sasaran berikutnya adalah Polandia.

Awal September 1939, jam 04:50 pagi, masuklah Jerman dalam wilayah Polandia. Tembakan – tembakan dari kapal Schleswig Holstein terhadap markas Polandia di Westerplatte adalah tembakan pertama pembuka PD II. Secara resmi Hitler mengatakan Polandia telah diserbu dalam pidato Reichstag (Parlemen) pada tanggal 1 september. 1939.

Pada tanggal 3 september, Inggris menyatakan perang terhadap Jerman yang dinyatakan oleh PM Chamberlain juga disusul oleh Prancis beberapa jam kemudian atas desakan Inggris. Perang Dunia ke II telah dimulai!

Strategi serang Jerman didahului oleh pembooman melalui udara oleh Luft Waffe yang dalam sekejab menghancurkan ratusan pesawat udara Polandia. Pasukan bermotor Jerman mulai bergerak jauh kedalam wilayah Polandia. Pasukan kaveleri Polandia tidak mampu mengimbangi pasukan tempur Jerman. Pasalnya Polandia hanya memiliki sedikit divisi perang dan kebanyakan senjata tua sisa peninggalan PD I.

Polandia tidak diam begitu saja melihat pasukan Jerman menyerbu tanah air mereka. Pasukan kaveleri berkuda Polandia bertempur dengan gagah berani, pedang – pedang mereka terhunus mengkilap siap memenggal pasukan Jerman. Tapi apalah daya kuda berperang melawan Tank, pedang melawan Meriam. Polandia hanya bisa menunda penghancuran tapi tidak bisa menghindarkan kekalahan.

Tidak lebih dari 3 minggu Jerman mampu menggulingkan Polandia. Dunia terpana dengan strategi perang baru dengan metode perang kilat (blitzkrieg). Heinz Guderian menjadi perhatian dunia dengan teori blitzkriegnya mendapat banyak pujian atas keberhasilannya. Atas jasanya itu Guderian diberikan bintang oleh Hitler dan mendapatkan tempat terhormat.

Penderitaan Polandia tidak sampai disitu. Beberapa hari kemudian Soviet Rusia pun ikut menyerbu. Stalin yang sebelumnya telah membuat perjanjian rahasia dengan Hitler pada tanggal 26 Agustus 1939. Berdasarkan perjanjian tersebut, Polandia barat jatuh ditangan Jerman dan Polandia timur ditangan Soviet Rusia. Secara resmi polandia runtuh seutuhnya.

Penulis: Lutfi bin Manu

Komentar