Yonard Piter Diki Dao, Difabel Tidak Lantas Padamkan Spiritnya Melatih Petinju

oleh -9 views
Pelatih Tinju Yonard Piter Diki Dao

Waingapu.Com – Lebih dari sepekan terakhir para peselancar dunia maya, khususnya para pengguna media sosial di Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT disuguhkan video seorang pelatih tinju yang tetap miliki semangat tinggi membimbing anak didikannya. Walau dalam kondisi hanya bertumpu pada satu kaki, tidak lantas kehilangan harapan dan spiritnya akan lahirnya petinju-petinju potensial dari sasana yang diasuhnya. Adalah Yonard Piter Diki Dao, sosok yang miliki spirit yang mengundang simpati itu.

Ditemui di sasana sederhana yang berada tepat di sisi kediamannya di sebuah sore pekan silam, nampak jelas keseriusan dan totalitasnya dalam membimbing sejumlah pemuda dan pemudi untuk menjadi petinju potensial. Tangan kanannya memegang alat penghitung waktu, sembari diketiaknya nampak menjepit kruk atau tongkat penyangga. Berkaos singlet putih dan bercelana pendek merah, matanya nampak serius, dan dari mulutnya juga sesekali terlontar arahan dan bahkan teguran pada anak didiknya satu persatu.

Pelatih Tinju Yonard Piter Diki Dao

Ardy Blazer, adalah namanya yang lebih familiar di kalangan anak didik ataupun para pecinta tinju serta sahabat dan kerabat menyapanya. “Yaa memang begini kondisi saya, tapi tetap saja saya harus melatih dan membimbing anak-anak ini. Sudah tiga bulan lebih kaki kanan saya ini diamputasi, tapi begitu luka bekas amputasinya sembuh saya langsung kembali melatih anak-anak. Saya tidak bisa tinggalkan anak-anak berlatih sendiri, kasihan mereka,” ungkapnya ketika ditanya kondisi disabilitasnya diperhadapkan dengan aktifitasnya.

Saat itu nampak sejumlah pemuda dan pemudi terus melakukan ‘shadow boxing’ sementara di sisi lainnya ada yang melakukan sparing. “Saya akan tetap melatih tinju, mencari dan memoles bakat anak-anak ini selagi mampu, ini dunia saya, selagi saya masih bernafas dan bisa berdiri sekalipun dengan kaki satu, saya akan tetap melatih. Walau memang diawal-awal saya sulit jaga keseimbangan, namun saya yakin waktu akan buat saya lebih stabil bergerak,” jelas Ardy sembari menambhkan dalam beberapa hari ke depan akan ke Solo untuk melakukan pengukuran kaki palsu itu.

Pelatih Tinju Yonard Piter Diki Dao

Sosok Ardy memang sosok yang taka sing bagi para penikmat tinju di Pulau Sumba bahkan NTT. Ia tergolong pelatih bertangan dingin, disiplin dan jeli dalam mencari bibit-bibit petinju potensial. Nama-nama seperti Jansen Hebi Marapu, Chornez Kawangu, Defry Palulu dan Apniel Daniel, dulunya mengawali latihan tinju di Sasana Blazer ini. “Mereka semua baik Jansen, Chornez, Defry dan Apniel masih sering jalin komunikasi dengan saya. Mereka juga sudah tahu kondisi saya begini. Harapan dan doa mereka juga terus semagati saya,” timpalnya.

Adapun kaki kananya diamputasi akibat alami osteo myelitis atau gangguan dalam kesehatan tulangnya itu tidak lantas spiritnya ikut pula teramputasi. Sosoknya tetap dihormati dan disegani oleh petinju binaannya. “Kalau saya dalam kondisi begini sudah nampak lemah dan nyerah bagiamana bisa saya ajarkan spirit dan mental petarung pada anak-anak? Jadi saya harus tetap tegar apapun kondisi saya seperti ini,” tegas Ardy usai melatih teknik pukulan pada Efraim D. Landu Praing, seorang petinju berusia 21 tahun binaannya.

Pelatih Tinju Yonard Piter Diki Dao

“Beliau sosok yang sungguh menginspirasi bagi saya dan kawan-kawan. Keras dan disiplin itu sudah pasti. Dan yang paling berkesan bagi saya adalah dalam kondisi seperti sekarang ini semangatnya untuk tetap dedikasikan kemampuannya untuk melatih kami anak-anak boxing sangat memacu kami untuk serius berlatih dan berprestasi,” ungkap Efraim yang sudah lebih dari dua tahun berlatih di sasana ini.

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Gracella Djera, seorang remaja puteri yang juga aktif berlatih ditempat ini. “Kami berlatih gratis di tempat ini, Bapa Ardy juga terus bimbing kami sampai dikondisnya sekarang. Kadang jujur saya kasihan dan tidak tega lihat dia, kalau kami pukul pelan saat dia menerima pukulan kami di tangannya, dia langsung tegur keras, tapi kalau kami pulul keras kadang dia goyang karena jaga keseimbangan. Tapi itu justru yang buat dia senang dan makin semangat,” urai Gracella.

Tidak ada ring tinju di sasana ini layaknya sasana tinju yang biasa terlihat di aneka media ataupun dalam imagi khalayak. Sejumlah peralatannya masih sangat terbatas. Namun jangan ditanya soal spirit di sasana ini, dalam kondisi sasana yang minimalis dalam sarana, namun punya spirit yang maximal. Betapa tidak, Ardy Sang Mentor, kakinya boleh diamputasi namun spiritnya tak akan pernah teramputasi!! (ion)

Komentar