Festival Wai Humba IX di Kampung Wundut: Refleksi dan Keswadayaan

oleh
Alex Japalatu

Saya pertama kali mengikuti Festival Wai Humba, yakni festival kesembilan pada November 2022 di Kampung Adat Wundut Lewa Sumba Timur. 

“Tana na beri Inamu“ (Tanah adalah Ibumu) yang diangkat sebagai tema adalah penegasan bahwa tanah di tempat kita berpijak adalah ina/inya/ibu/mama yang melahirkan dan memberi kehidupan. Tanah sebagai ina/inya tak pernah ingkar janji. Ia mengalirkan air untuk kehidupan. Ia menumbuhkan segala bahan sandang, pangan dan papan agar makhluk hidup di atasnya tetap bertahan. Sebab itu, mengutip pernyataan Direktur Yayasan Donders, Mikael Keraf, CSsR dalam orasi budayanya pada malam pembukaan, Kamis (17/11/2022): Barangsiapa yang merusak bumi Sumba, ia telah berkhianat terhadap ibunya. Barangsiapa yang sudah mulai menjual tanah Sumba, ia sedang “menjual” ibunya. Saya 100 persen sepakat dengan pernyataan ini!

Menombak

Pelaksanaan Wai Humba bagi saya adalah kesempatan untuk berefleksi bersama seluruh warga Sumba bersama para penganut Marapu dari dari empat gunung Purunobu, Yawila, Wanggameti dan Tanadaru, apakah kita masih menghargai “ibu bumi” yang telah memberi kita kehidupan dari generasi ke generasi? Atau sebaliknya kita telah menjualnya kepada para pemilik modal yang sifat dasarnya adalah serakah?  Yang hanya melihat keuntungan finansial sebagai tujuan. Yang mau melakukan patgulipat dengan pemegang kekuasaan dengan menempuh segala cara. 

Baca Juga:  Sebuah Catatan Kritis, Kemana Arah Investasi di Sumba Timur?

Dalam diskusi bersama para Rato Marapu dari empat gunung malam itu, persoalan ini muncul ke permukaan. Selain persoalan perambahan hutan dan hilangnya peran pemerintah dalam menjaga warganya. Dan persoalan-persoalan lainnya. 

Kenyataan bahwa bumi Sumba sudah diperdagangkan dapat kita lihat dalam berbagai contohnya, antara lain kehilangan tanah bagi warga pada pesisir utara Kabupaten Sumba Barat Daya karena telah dijual kepada para pemilik modal. 

Satu hal yang menjadi perbincangan malam itu adalah bagaimana menyelamatkan Tanjung Sasar yang telah menjadi simbol pemersatu seluruh suku yang mendiami pulau ini. Darimana nenek moyang orang Sumba menyebar ke seluruh pulau. Sebab sekarang ada upaya diambil alih kaum kapitalis, yang bersekutu dengan para oknum dari pemerintahan. 

Maka Festival Wai Humba menjadi ajang konsolidasi untuk melakukan perlawanan. Dengan mengajak seluruh jejaring dari Sumba maupun luar Sumba. Yakni orang-orang yang punya hati terhadap penyelamatan alam dan segala isinya.

Kita kini memasuki zaman digital. Masuk ke dalam budaya populer.  Salah satu buktinya adalah teknologi internet dengan kecepatan berbagi informasi yang menakjubkan. Dunia sungguh telah menjadi “desa kecil” seperti telah diprediksi para futurulog pada beberapa dekade silam. Apa yang terjadi di Wundut dalam sekejap telah sampai ke Jerman, dan sebaliknya. Wundut dan Jerman hanya seperti ujung desa yang berbeda. Maka elemen dari budaya yang baru ini dapat kita pakai untuk menjalin kekuatan dengan warga Indonesia dan dunia yang memiliki perhatian yang sama. 

Baca Juga:  SETELAH PENYAMPAIAN ASPIRASI DOB, BAGAIMANA?

Makang

Sebab semakin banyak yang bersuara, suara kita akan lebih keras dan bisa didengarkan. Mempertahankan kelestarian alam Sumba tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri, namun bersama-sama dalam semangat kolegialitas. Sesuai peran dan keahlian masing-masing. Dus, kolegialitas adalah salah satu nilai yang telah dimunculkan bahkan sejak Festival Wai Humba pertama.

Dalam perbincangan saya dengan beberapa peserta, misalnya Ibu Regina Radu Pala dari Kodi, seorang perempuan penenun dan petani, ia berkisah bahwa dalam tiga kali penyelenggaraan Wai Humba yang ia ikuti, ia membawa apa saja yang bisa disumbangkan. “Saya kemarin bawa sayur-sayuran satu karung ke sini. Kita tidak boleh datang dengan tangan kosong, meskipun tuan rumah pasti sudah menyiapkan makanan untuk kita. Sebelumnya kami membawa kelapa dari Kodi,” kata dia.   

Apa arti sumbangan sederhana itu jika kita nilai dengan uang? Hanya kecil saja. Tetapi yang tak bisa dinilai dengan uang adalah kesadaran ke-swadaya-an. Bahwa saya harus menyumbang untuk kebersamaan. Semangat memberi!  Dengan menelungkupkan tangan. Bukan berharap bantuan! Dengan menadahkan tangan. Hal ini juga menjadi antitesa dari apa yang selama ini diberikan oleh pemerintah kepada warganya: Uang tunai sebagai bantuan. Alih-alih menciptakan kemandirian agar warga mencari sendiri untuk kehidupan mereka. 

Baca Juga:  Legalisasi Nafsu di Atas Lembaran Tugas Kuliah

Terbukti sejak semula nilai keswadayaan ini sudah menjadi keseharian kita. Ia telah menjadi “gen” kita masyarakat Sumba. Ketika ada perhelatan besar seperti di Wundut atau pada tempat lain, selalu ada kesadaran untuk menyumbangkan sesuatu sekecil apapun itu. Dan sumbangan itu tidak selalu berupa barang atau uang yang tampak mata. Tetapi ia juga berupa ide, keahlian, pemikiran dan hal-hal lain yang tak kelihatan oleh mata. Justru yang terakhir ini yang masih jarang kita temukan. 

Sekembali dari Wundut, saya selalu bertanya-tanya, apa yang bisa saya sumbangkan untuk Sumba ke depan? Sebelum nanti ketika pas waktunya, ketika sang pemberi kehidupan memanggil pulang, IA boleh berkata: Terima kasih Nak, engkau telah melakukan ini untuk umatku! 

Penulis: Alex Japalatu, Jurnalis dan Foto Pendukung oleh Hans Mila Mesa

Komentar