Hadapi Covid 19 & Belalang Kembara Dalam Kebersamaan

oleh -137 views
Petrus Ndamung

orona Virus Disease (Covid-19) yang menjadi pandemic sejak Desember 2019 telah menghantam perekonomian global. Resesi ekonomi terjadi hampir di semua Negara yang mengalaminya. Tak terkecuali Indonesia yang pada awal maret 2020 telah muncul kasus covid-19. Hingga kini, semua propinsi di Indonesia telah berwarna merah karena kasus tersebut. Tidak terkecuali di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai propinsi ke – 33 yang positif, satu langkah di belakang Propinsi Gorontola.

Ditengah kepanikan akan resesi ekonomi sebagai dampak pandemic Covid-19, kini di Kabupaten Sumba Timur muncul lagi sebuah wabah yang membuat masyarakat tambah panic terutama masyarakat petani yaitu munculnya koloni belalang kembara (Locusta Migratoria). Seperti yang diberitakan www.waingapu.com Selasa 15 April 2020 bahwa telah muncul koloni belalang kembara di Desa Palakahembi Kecamatan Pandawai, serta Desa Wanga Kecamatan Umalulu.

Wabah ini jelas menjadi ancaman serius bagi sebagian masyarakat terutama petani yang menggantungkan hidupnya pada sumber pertanian. Apalagi ditengah situasi pandemic Covid -19, satu-satunya upaya yang dapat dilakukan adalah bagaimana tetap survive dengan memperkuat ketersedian pangan. Pertahanan terakhir yang dimiliki masyarakat adalah bagaimana memastikan ketersedian pangan. Namun dengan kemunculan koloni belalang kembara ini, warga sudah dapat dipastikan resah. Apalagi pada saat ini belum sampai pada puncak musim panen, artinya masih ada sebagian sumber pangan yang menunggu panen. Tetapi jika koloni belalang kembara ini telah menyerang, kemungkinan yang terjadi adalah gagal panen serta krisis pangan yang berkelanjutan.

Baca Juga:  SWAB Terkonfirmasi Negatif, Pasien 01 Positif Corona di Sumba Timur Dipulangkan

Wabah belalang kembara ini sebenarnya bukan hal yang baru bagi Kabupaten Sumba Timur, yang paling baru yaitu terjadi pada tahun 2016-2017 yang menyerang hampir seluruh Kecamatan di Sumba Timur. Pada masa tersebut, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur bahkan meminta bantuan Pemerintah Propinsi dan Pusat untuk membantu menanganinya.

Belajar dari pengalaman tersebut, Pemerintah Sumba Timur seharusnya sudah mempunyai langkah-langkah strategis dalam penanganan wabah belalang kembara sehingga tidak meluas dan membawa dampak yang lebih luas lagi. Dari pandangan beberapa ahli penanganan wabah ini harus menghindari penggunaan pestisida. Seperti yang diutarakan Pengamat Pertanian dan Hama IPB Hermanu Tri Widodo kepada detik news 13 juni 2017 silam, bahwa penggunaan pestisida sama saja membuat masalah. Penggunaan pestisida akan membuat pencemaran lingkungan dan dapat membunuh eksosistem lain misalnya burung sebagai pemangsa belalang.

Baca Juga:  Oleh-Oleh dari Kodi & Samuel Rangga Boro, Sang Peracik ‘Ramuan Anti Covid-19’ (Bagian 1)

Walhi NTT sejak tahun 2016-2017 juga selalu mengingatkan pemerintah bahwa wabah belalang kembara harus perlu penanganan khusus dikarenakan wabah tersebut menyerang sumber utama pangan warga. Kini di tahun 2020 wabah ini mulai bermunculan, Walhi NTT kembali mengingat Pemerintah Daerah agar dapat membagi peran dalam menangani dua persoalan yang sama-sama menjadi ancaman kehidupan warga.

Dampak dari wabah belalang ini jangan dianggap sepele, ini sangat serius. Ditengah situasi dimana semua kebutuhan warga terbatasi karena Covid-19, hal yang dapat kita lakukan adalah bagaimana mengawal dan memastikan sumber pangan warga tetap tersedia.

Antara Covid-19 dan Wabah belalang kembara ini harus mempunyai porsi yang sama dalam penanganannya karena mempunyai dampak yang sama di tingkat local.

Baca Juga:  Dalam Sehari, Sumba Timur Kirim 86 Specimen SWAB Ke Kupang

Untuk itu, WALHI NTT kembali mengingat kepada pemerintah Kabaupaten Sumba Timur maupun kepada seluruh elemen masyarakat yang ada di Kabupaten Sumba Timur untuk secara bersama-sama bergandengan tangan memerangi Pandemi Covid-19 dan ancaman hama belalang kembara yang mulai bermunculan. Karena ketersediaan pangan yang cukup akan memastikan seluruh warga dapat keluar dari persoalan ini.(*)

Penulis: Petrus Ndamung (Staff Walhi NTT)

Komentar