Menakar Keberanian Bergereja dalam Spirit Iman Akan Sang Alfa dan Omega (Refleksi Kritis BPD Peruati Sumba Tentang Perhelatan Sidang Sinode GKS Ke-43 di Waimangura, 20-26 Juli 2022) 

oleh

Kegembiraan yang melahirkan syukur patut dirayakan karena keberlangsungan sidang sinode GKS Ke-43 telah berlangsung di kota dingin Waimangura, Sumba Barat Daya sejak tanggal 20-27 Juli 2022. 

Saya larut dalam kegembiraan dan syukur itu karena mengikuti seluruh agenda persidangan yang direncanakan dengan apik oleh panitia tapi juga tidak luput dari kekurangan di sana-sini. Tak ada yang sempurna tapi ketulusan dan kehangatan seluruh panitia dan masyarakat di sana membuat kami sanggup melewati 19-14 derajatnya suhu Waimangura. 

Selain hadir sebagai peninjau dari Klasis Waingapu, juga mengada di momentum ini sebagai bagian dari Peruati Sumba dengan kontribusi pemikiran yang mendorong lahirnya kepekaan GKS akan realitas yang begitu kompleks seperti kekerasan berbasis gender, ketidakadilan, relasi Lintas iman, gaya hidup boros, kemiskinan, stunting, perubahan iklim, bencana, kekerasan berbasis budaya dan online, peperangan, radikalisme, hama belalang, pembalakan liar, pengrusakan terumbu karang dan hutan mangrove, privatisasi air dan tanah oleh korporasi, kekuasaan yang sewenang-wenang, relasi gereja dan pemerintah yang tidak setara, pengabaian terhadap disabilitas dan sebagainya.  

Persidangan kali ini digelar dibawah tema: “Aku Adalah Yang Awal dan Yang Akhir” (Why 22:13) dan Sub Tema: “Dalam Penyertaan Sang Alfa dan Omega, GKS Membenahi Diri untuk Menghadirkan Pelayanan Holistik yang Membebaskan”. Secara sederhana tema dan sub tema ini berangkat dari penghayatan iman bahwa Allah Sang Alfa dan Omega tidak pernah absen dari sejarah dunia termasuk Sumba. Tak ada waktu di mana Allah tidak ada. Sang Alfa dan Omega itu menenun gereja dari kepelbagaian dan dari masa ke masa. Ia mengada di segala zaman dan keberadaan itulah yang menjadi kekuatan gereja dalam menghadapi hidup dan pengalamannya kini.

Sepanjang iman itu berjangkar pada Sang Alfa dan Omega, maka gereja akan selalu menemukan cara untuk merelevankan diri dan makna kehadirannya dalam dunia milik Allah ini. Tentu saja ini mendorong gereja untuk menemukan cara-cara baru dalam mengadanya secara organisatoris pada satu sisi lalu pada sisi lain ia harus mengembangkan kesadaran bahwa gereja bukanlah satu-satunya wajah kehadiran Allah bagi dunia. Ia terus menerus berziarah bersama sesama dan ciptaan lain guna menemukan bentuk-bentuk baru dari kehadirannya untuk merawat kehidupan bersama tanpa perasaan superioritas.

Bila tulisan ini saya beri judul: Menakar keberanian bergereja,… maka keberanian itu lahir dan menyusu pada ibu pemikiran iman bahwa Allah adalah Sang Alfa dan Omega. Bung Jacky Manuputty Sekum PGI menyumbang pemikiran yang dalam dan menginspirasi dengan mengelaborasi tema dari kitab Wahyu yang disodorkan oleh GKS. Satu catatan serius dari beliau adalah kabar baik itu harus menyentuh seluruh eksistensi kehidupan bukan saja manusia melainkan juga ekologi sebab Allah Sang Alfa dan Omega juga mengada di sana. 

Sebagaimana lazimnya, agenda persidangan dibagi dalam 2 agenda besar yakni study meeting berupa seminar dan Pemahaman Alkitab guna menopang spirit pemikiran kritis dan ketajaman berpikir menghadapi realitas sosial sekaligus sebagai pernyataan iman GKS. Agenda pertama, diawali dengan sambutan Gubernur NTT: Victor Laiskodat yang seperti biasa membawa gereja pada evaluasi mendalam terkait substansi kehadirannya bagi kaum rentan dan tak berdaya seperti korban kekerasan, stunting dan kemiskinan yang menjadi wajah NTT hingga saat ini.   

Agenda kedua adalah bisnis meeting untuk mengevaluasi pekerjaan yang telah berlangsung selama 4 tahun serta merumuskan kebijakan untuk landasan karya pada 4 tahun mendatang. Pada bagian ini, Peruati Sumba menyumbangkan pemikiran pentingnya GKS memiliki Komisi Teologi dan Liturgi yang kemudian disetujui oleh persidangan. Komisi ini terdiri dari para dosen teologi dan pendeta jemaat dan ada 4 pokok teologi akan dikaji secara mendalam oleh mereka yakni: Eklesiologi, Liturgi, Ekologi dan Relasi Lintas Iman. Bagian kedua ini ditutup dengan pemilihan badan pengurus majelis sinode GKS periode 2022-2026.  Usulan, tanggapan atas laporan BPMS, pergumulan dan harapanharapan warga gereja yang dibawa oleh Klasis-Klasis dibahas dalam sidang seksi yang kemudian diplenokan.  

Salah satu tema PA adalah Sang Alfa dan Omega, Allah Penenun Kehidupan dibawakan oleh Pdt. Dr. Irene Umbu Lolo dan di sini akan saya hadirkan catatan dari Pdt Fitri Rambu Sabatti di WAG Peruati Sumba tentang hal ini demikian:  

Baca Juga:  Pembangunan Sumba Timur, Mau ke Mana? Catatan Refleksi Masuknya Investasi di Sumba Timur (Bagian I)

“Berjumpa dengan Allah, Sang Penenun…

Narasi ini bagi kebanyakan orang akan dilihat sebagai hal yang asing bahkan mungkin sedikit ‘nyeleneh’. Konsep Allah yang powerfull, yang maskulin, tentu tidak cocok dong disandingkan dengan pekerjaan menenun? Bukankah menenun itu identik dengan perempuan?  

Justru titik itulah yang disasar oleh pemateri PA dalam Sidang Sinode hari ke-2, Pdt. Dr. Irene U. Lolo. Mazmur 139 ayat 13-18 dikupas menggunakan Metode MAdMB (Membaca Alkitab dengan Mata Baru). Ayat 13 mengatakan bahwa Allah menenun kehidupan manusia sejak dalam kandungan. Menenun yang selama ini dikerjakan perempuan ternyata juga dikerjakan oleh Allah. Dan betapa metafora ini merangkul pengalaman perempuan dalam gambaran tentang Allah.  

Karena Allah menenun, maka kita adalah tenunan-Nya. Gereja adalah tenunan-Nya. Tenunan adalah hasil dari proses yang rumit dan lama. Tenunan adalah jalinan berbagai benang yang berbeda. Tenunan hanya dapat sempurna jika ia terjalin satu dengan yang lain.  

Dalam filosofi kehidupan orang Sumba, tenunan memiliki banyak makna. Ia adalah simbol cinta, simbol penghargaan, simbol perdamaian, dsb. Tenunan dapat merekatkan relasi yang rusak. Karena itu, sebagai tenunan Allah, maka cinta, penghargaan, perdamaian, haruslah menjadi kualitas yang dinyatakan di tengah dunia ini.  

Allah, Sang Penenun, tidak pernah berhenti menenun. Ia belum selesai bekerja. Maka selalu ada harapan bagi setiap pribadi, bagi Gereja, untuk terus berbenah. Selalu ada harapan untuk memperjuangkan kehidupan bersama yang lebih baik lagi. Selalu ada ruang untuk saling merangkul dalam pelbagai perbedaan. Selalu ada kesempatan kedua untuk kita yang sedang tertatih-tatih, terseok-seok dalam perjalanan. Selalu ada harapan untuk relasi yang saling menopang dan memulihkan bersama Dia, Sang Penenun itu “. 

Peruati Sumba pun merekam pengalaman nasional dan juga jemaat – jemaat GKS yang wilayah pelayanannya di perkotaan termasuk Klasis Waingapu terkait persaudaraan dan persaudarian dalam masyarakat majemuk. Menyadari bahwa pengalaman itu adalah suatu realitas penting dalam hidup bergereja maka Peruati Sumba menyumbangkan pemikiran untuk menghadirkan Gus Aan Anshori, seorang tokoh muda Islam dari NU yang progresif di mana pemikiran-pemikirannya sudah dikenal kalangan luas dan sangat menyumbang bagi eratnya tenunan persaudarian bangsa Indonesia yang plural. Beliau hadir dan berdiskusi dengan peserta persidangan di bawah topik “Kehadiran Gereja dalam Perspektif Islam: Berkah atau Musibah” 

Gus Aan dengan terang benderang mengatakan bahwa kehadiran gereja adalah berkah bagi Islam dalam menjaga sikap tetap toleran. “Peran gereja sangat penting dalam merawat Islam agar tetap toleran” begitu salah satu pernyataan penting beliau. Tentu saja merawat itu dimaknai sebagai persahabatan, persaudaraan yang harus terus terjaga dalam keseharian. Peta wilayah se-Indonesia yang diberi warna merah untuk Islam intoleran dan putih untuk Islam toleran disajikan dengan apik dan tajam oleh Gus Aan. NTT masih putih tapi sampai berapa lama?pertanyaan yang sungguh menggelisahkan. Topik ini mendapat tanggapan yang sangat hangat dari peserta, waktu 1 jam yang disediakan panitia berlalu begitu cepat, padahal banyak pertanyaan yang telah disiapkan peserta masih mau diajukan. Tambahan waktu sekitar 45 menit juga tak cukup seakan hausnya peserta akan pemikiran-pemikiran Islam yang menampilkan substansi beragama sejati seperti yang dikemukakan Gus Aan sudah lama  tidak mereka temukan. Saya sebagai moderator sampai didoakan khusus untuk diampuni dosa oleh salah satu Pendeta emiritus gara-gara beliau tidak mendapat kesempatan bertanya pada Gus Aan dalam kesempatan itu, padahal waktu sudah merangkak ke 22.30 dan agenda yang tersisa masih harus dilanjutkan pada malam itu. 

Pemikiran yang terbangun dalam diskusi dan sharing dengan Gus Aan makin menguat dengan materi yang dibawakan oleh Pdt Dr. A.A Yewangoe soal Marawat NKRI. Pancasila menjadi pengikat yang mempersatukan bangsa dalam segala keberagamannya. 

Baca Juga:  Revitalisasi Hukum Gender & Kebudayaan: Perempuan Sumba Melaju Maju Tanpa Menggeser Budaya

Kedatangan Gus Aan Anshori dalam kesempatan ini bukan saja menjadi berkah bagi peserta tapi meluas pada berbagai kalangan. Saat matahari terbit, tanggal 21 Juli,  Gus Aan kami bawa untuk bertemu dengan Rato Marapu di Kampung Tarung Sumba Barat. Itulah juga pengalaman pertama saya ketemu sang Rato (pemimpin agama Marapu – kepercayaan lokal di Sumba). Dalam perjumpaan itu kami belajar tentang pokok-pokok pemikiran Marapu tentang keragaman agama di Indonesia dan manfaatnya bagi kehidupan bersama. Selepas dari sana, Gus Aan boleh berbagi topik menarik dengan komunitas STT GKS soal : LGBTIQ dalam perspektif Islam. Diskusi ini menolong peserta untuk memahami bagaimana Islam sebagai agama yang rahmatan Lil Alamin juga telah membuka ruang bagi keberagaman orientasi seksual sehingga mendidik umat untuk menjauhkan diri dari kekerasan berbasis gender. 

Selanjutnya Gus Aan juga telah membuka jembatan yang menghubungkan Peruati Sumba dengan PHBI dan NU di Sumba Barat Daya, beberapa anggota dan sahabat Peruati Sumba terlibat dalam kehangatan persaudaraan dengan sahabat-sahabat kami di sana. Kami jadi berkenalan dengan Gus Umar, dengan Romo Yanto dan pengurus Masjid Al Falah yang berkisah tentang hal-hal sederhana tapi mengharukan dalam masyarakat Tambolaka dan sekitarnya. Pengalaman itu sekarang hilang tergerus oleh media yang tidak selalu mengahdirkan kabar baik tetapi penuh provokasi. Nyatanya pengalaman itu tersimpan di kalbu lalu merindu untuk terulang kembali. Catatan Gus Aan adalah mari saling merawat sebab Indonesia butuh orang-orang yang berkomitmen pada kemanusiaan, welas asih dan tentu saja NKRI dan Pancasila. Saya menimpali dengan mengatakan semua orang punya niat baik tetapi hanya orang-orang berani yang akan meujudkan niat baik itu dalam tindakan sehari-hari. 

Pengalaman mengadvokasi kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak membawa Peruati Sumba dalam perjuangan membangun kesadaran publik bahwa menafikan realitas itu adalah tindakan menutup cahaya Injil di bawah gantang. Untuk itu Peruati Sumba melalui jejaringnya berhasil menghadirkan ketua Komnas Perempuan yakni Andy Yetriyani, MA  dan wakil ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Ibu Dr. Livia Istania Iskandar, M.Sc, P.Si guna menolong peserta yang adalah pemimpin umat di jemaat – jemaat dalam menghadapi pengalaman kekerasan terhadap perempuan dan anak serta kelompok rentan lainnya. Andy dari Komnas Perempuan menyajikan materi tentang UU TPKS dan peran Komnas dalam mengadvokasi kebijakan baik negara maupun daerah dalam keberpihakannya pada perempuan dan anak. Andy menyentak kesadaran gereja dengan pertanyaan : “kalau ada kasus kekerasan seksual dalam gereja, apakah gereja berani pasang badan untuk melindungi korban?” Ada 5 hal yang menjadi rekomendasi Komnas bagi GKS yakni :  

  1. 1. Peningkatan kapasitas pendamping korban 
  2. 2. Koordinasi dengan berbagai pihak akan sangat baik 
  3. 3. Pencegahan – peran gereja untuk edukasi/upaya preventif dalam mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak 
  4. 4. Advokasi kebijakan : mengawal implementasi UU TPKS 
  5. 5. Kepemimpinan gereja yang berani pasang badan untuk mendamping korban sehingga korban mendapat keadilan. 

Sedangkan Ibu Livia meluaskan informasi soal peran LPSK dalam memberi perlindungan terhadap korban dan saksi dalam suatu kasus sebagai bentuk kehadiran negara dalam melindungi korban dan saksi agar aman dari ancaman pelaku atau pihak-pihak yang berkaitan dengan kasus tersebut. Yang dipercayakan sebagai moderator dalam sesi ini adalah Pdt. Aprissa L. Taranau yang adalah ketua BPD Peruati Sumba. Dari tanggapan yang dikemukakan peserta persidangan untuk dua pembicara di sesi ini, pada level tertentu kita mendapat gambaran bahwa sistem patriarki dengan kekuatannya masih sangat mendominasi sehingga bila ada Komnas untuk perempuan, seharusnya juga ada untuk lakilaki, padahal dalam kenyataannya karena makin tinggi angka kejahatan terhadap perempuan dan anak lah yang menjadi tonggak sejarah lahirnya Komnas Perempuan. 

Andy Yetriyani dari Komnas membawa Peruati Sumba dalam perjumpaan dengan Pemda Sumba Barat Daya, Sumba Barat,  tokoh budaya Sumba Tengah dan jaringan pendamping lapangan untuk melihat dan mendengar sejauh mana penanganan dan pendampingan terhadap kinerja rban kekerasan seksual serta merekam serta memberi masukan terhadap kebijakan Pemda berkaitan dengan pengalaman perempuan dan Anak. Melalui perjumpaan itu, Peruati Sumba meluaskan jejaring kerja sama yang bermanfaat dalam kerja advokasi di lapangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan. 

Baca Juga:  Surat Terbuka Kepada Pemda Sumba Timur

Ketajaman dan kepekaan GKS dalam menghadapi realitasnya turut dibesarkan oleh kehadiran para Bupati dari 4 Kabupaten dengan informasi soal perkembangan daerah pemerintahannya di mana GKS menjadi bagian di dalamnya. Isu – isu penting dan krusial dipaparkan untuk menjadi bagian dari perhatian gereja ketika mendesain program pelayanan setelah momentum ini. Gereja dan pemerintah mesti bersinergi untuk mengukuhkan cinta dan Rahmat Allah bagi masyarakat dan dunia. 

Menjelang pemilihan BPMS yang baru, percakapan riuh soal figur yang cocok untuk memimpin GKS, dan saya mengimajinasikan suasana itu seperti kapal di tengah gelombang besar di lautan luas. Kapal serasa bergoyang hebat dihantam gelombang, penumpang harus tetap waras agar tidak mabuk laut. Untungnya gelombang itu jauh dari kekerasan fisik dan ujaran kebencian. Gereja memang menampilkan wajah yang berbeda dalam hal ini dari bursa pencalonan kainnya. Pada hari pemilihan, karya pelayanan dan keberpihakan perempuan juga dilihat oleh peserta sehingga dalam usulan calon ketua umum, ada 4 orang perempuan masuk menjadi bakal calon. Mereka itu adalah Pdt. Marlin Lomi, S.Th, Pdt Yuliana Ata Ambu S.Th, M.Min, Pdt Aprissa L. Taranau, M.Si dan Pdt. Herlina Ratu Kenya, MAPT. Namun 2 orang perempuan yang terkahir memilih memberi dukungan pada 2 Pendeta perempuan sebelumnya. Anggota Peruati Sumba lainnya yang turut dicalonkan adalah Pdt Rambu Ana Maery, MAPT dalam posisi sebagai Sekum, Pdt Katji Fanggidae, S.Si Teol dan Pdt. Ria Sabaora, S.Si Teol untuk ketua 1 tapi mengundurkan diri sedang Pdt, Aprissa L. Taranau maju sebagai calon ketua 1. Pdt Elsye Suluh, S.Si Teol untuk ketua 2 namun mengundurkan diri dan Pdt Merlyn Yewang, S.Th untuk ketua 2. Semuanya belum terpilih pada periode ini namun semangat tajam menatap,peka merasakan , berani bertindak terus dihidupi  dalam jemaat dan masyarakat masing-masing. 

Gemuruhnya angin di lautan luas itu akhirnya reda juga, nahkoda pun terpilih. Tempik sorak terdengar, juga tetesan air mata dan tangan yang saling merangkul memberi semangat pada yang belum terpilih. Ya…seorang Pendeta perempuan yakni Pdt. Marlin Lomi, S.Th terpilih untuk mengibui GKS sepanjang 4 tahun ke depan. Pada titik ini, saya melihat keberanian GKS untuk memberi kesempatan kepada perempuan memimpin di tengah erangan patriarkhi yang terus melenguh akibat kesadaran feminis mulai bertumbuhan di sana – sini. Tentu saja feminis itu bukan saja soal pemimpin itu seorang perempuan atau laki-laki tapi soal pemaknaan Alfa dan Omega yang melampaui jenis kelamin untuk menghadirkan keberpihakan Allah pada mereka yang rentan dan tak berdaya baik manusia maupun semesta sehingga menghadirkan keadilan, kesetaraan, perubahan dan transformasi.  

Akhirnya dengan penuh haru kami menitip doa dan harapan pada Badan Pengurus Majelis Sinode GKS yang baru yakni :  

Ketua Umum : Pdt. Marlin Lomi, S.Th

Sekretaris Umum : Pdt. Jack Malo Bili, S.Th, M.Pd 

Ketua 1 : Pdt. Benyamin Kondi, S.Th 

Ketua 2 : Pdt. Aprianus Meta Djangga Uma, S.Si, M.PdK 

Serta mendaraskan ucapan syukur dan terima kasih atas karya pelayanan di dalam Allah oleh BPMS periode 2018 – 2022 di bawah kepemimpinan : Pdt Alfred Samani, M.Si (Ketum), Pdt Marlin Lomi, S.Th (Sekum), Pdt Yuliana Ata Ambu, S.Th, M.Min (Ketua 1 ) dan Pdt Steven Soan, S.Th (Ketua 2). 

Semoga Rahmat Allah memeluk semua pengurus terpilih dalam kesadaran akan kerapuhannya namun dalam spirit Sang Alfa dan Omega mereka yang rapuh itu bisa memimpin bersama demi meluasnya kerahiman Allah. Kebesaran hati Anda sebagai pemimpin yang rapuh akan menjadi ruangan besar penuh Rahmat Allah bagi solidnya kepemimpinan mengibui gereja ini hingga lahir karya-karya kehidupan. Allah Sang Penenun itu adalah Alfa dan Omega, Ia akan terus merengkuh kita. 

Padadita, 30 Juli 2022 

Penulis: Pdt. Herlina Ratu Kenya (Sekretaris BPD Peruati Sumba). 

Komentar